• News

  • Kesehatan

Gusi Berdarah dan Bau Mulut, Awas Penyakit Periodontal

Ilustrasi Gusi
Gulalives
Ilustrasi Gusi

DEPOK, NETRALNEWS.COM - The American Academy of Periodontology (AAP) dan The European Federation of Periodontology (EFP) telah yang menetapkan klasifikasi baru penyakit periodontal (jaringan penyangga gigi).

Kata Guru Besar Tetap dalam bidang Periodonsia Universitas Indonesia (UI), Prof Dr drg Sri Lelyati, SU SpPerio(K), prevalensi terjadinya penyakit periodontal akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang. 

"Umumnya secara fisiologis mulai usia 35 tahun terjadi penurunan pada kondisi jaringan penyangga gigi. Masalah periodontal ini juga seringkali diabaikan oleh masyarakat," kata Prof Sri saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi, Sabtu (14/9/2019).

Pernyataan tersebut disampaikan Prof Sri saat pidato yang berjudul “Periodontitis, Arah Perkembangan Ilmu Kedokteran Gigi Terkini serta Keterkaitannya dengan Peningkatan Kualitas Hidup Manusia".

 Prof Sri mengutarakan, tanda awal dari adanya kerusakan jaringan penyangga gigi adalah gusi berdarah, dan bau mulut. Apabila sampai proses lanjut, gigi akan goyang dan mengganggu pengunyahan seseorang sehingga berdampak terhadap gangguan pada sistem stomatognatik dan dapat menurunkan kualitas hidup manusia. 

Upaya pencegahan masalah periodontal dapat dilakukan masyarakat dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik dan benar, misalnya kapan saat yang tepat menyikat gigi dan bahwa sudah bersih sempurna. Selain itu, perlu pemeriksakan kondisi jaringan penyangga giginya ke dokter gigi secara rutin enam bulan sekali.

"Upaya lain yang dapat dilakukan adalah menghentikan kebiasaan merokok, serta memantau status kadar glikemik (Hba1c) pada penderita diabetes melitus," imbau dia.

Usaha untuk peningkatan kualitas hidup manusia dari segi kesehatan periodontal, diperlukan kolaborasi dari beberapa pihak secara sinergis. Selain individu/pasienn, diperlukan juga peran dokter gigi terutama spesialis periodonsia, spesialis penyakit dalam, spesialis jantung dan pembuluh darah serta pemerintah.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli