• News

  • Kesehatan

Waspada Informasi Hoax Seputar Kanker

Waspadai berita hoax seputar penyakit kanker. (Dok:Serviks)
Waspadai berita hoax seputar penyakit kanker. (Dok:Serviks)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di tengah perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan media sosial (medsos) akhir-akhir ini, seperti diketahui telah memicu beredarnya informasi hoax (bohong) di tengah masyarakat. Tak ayal, banyak masyarakat dengan kemampuan literasi rendah menjadi mudah percaya akan berita hoax, sebut saja berbagai cara pengobatan alternatif untuk mengobati kanker dibanding menempuh pengobatan secara medis.

Melihat hal tersebut, Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional ( KPKN), Prof DR Dr Soehartati Gondhowiardjo Sp Rad (K) Onk Rad memperingati masyarakat Indonesia tidak terpengaruh akan berita hoax yang umumnya ditemukan di medsos. Selain itu, dia juga memperingati masyarakat, utamanya penderita kanker untuk melakukan pengobatan medis dibanding mencoba berbagai pengobatan alternatif yang banyak ditawarkan di internet.

"Kalau klik di internet tentang kanker, itu hanya 10 persen yang benar. Banyak yang menawarkan obat-obat, misalnya obat yang1000 kali lebih kuat lawan kanker. Hoax," kata DR Soehartati dalam acara Bincang-bincang Bersama Ahli Kanker Kepala Leher di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Kamis (10/8/2017).
 
Lebih lanjut, DR Soehartati mengingatkan kembali akan perbedaan kanker dengan tumor. Kata DR Soehartati, kanker merupakan bentuk dari tumor ganas yang tidak berkapsul dan memiliki kemampuan hidup atau menyebar ke organ lain yang telah dipastikan berbahaya. Sedangkan tumor merupakan benjolan yang berkapsul dan tidak menyebar, sehingga tidak berbahaya. "Meski memang semua benjolan di tubuh yang tumbuh tidak normal itu disebut tumor," sambung DR Soehartati.

Namun disayangkan, kian kemari angka penyitas kanker semakin meningkat, bahkan jumlah penderitanya lebih banyak daripada penderita jantung dan stroke. Bahkan, jika jumlah pasien TBC, malaria dan AIDS dijumlahkan, penderitanya terhitung masih banyak penderita kanker.

"Masalah lainnya, kanker itu bukan seperti sakit TBC, kanker kalau didiamkan bisa cepat jadi parah, ditunjukkan dengan satdium. Selain itu, kalau stadium tinggi baru terdeteksi, angka kesembuhannya menurun, biayanya juga jadi mahal," jelas DR Soehartati.

Sehingga, kata DR Soehartati, kanker akan berdampak pula pada keadaan perekonomian keluarga. Padahal, kanker bisa dipangkas risikonya hingga 43 persen dengan melakukan pola hidup sehat dan 30 persen dapat ditangani dalam keadaan saat terdeteksi dini.

"Jadi jangan percaya dengan berbagai obat-obat diinternet, apalagi seperti queen of cancer, langsung lakukan pengobatan medis," pesan DR Soehartati.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani