• News

  • Kesehatan

Waspadai Kanker Nasofaring, Pasiennya Tertinggi di Dunia

Penderita kanker nasofaring Indonesia berada urutan ke-10 di dunia. (Ilustrasi:Deherba)
Penderita kanker nasofaring Indonesia berada urutan ke-10 di dunia. (Ilustrasi:Deherba)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Secara global, kanker masih menjadi beban kesehatan, baik dari segi angka kesakitan maupun kematian khususnya di negara berkembang. Salah satunya, seperti perkembangan kanker "milik Orang Asia", yakni Kanker Nasofaring yang menduduki peringkat jumlah pasien terbanyak urutan ke-10 di dunia.

Bahkan di Indonesia, kanker ini berada pada urutan ke empat dengan pasien terbanyak setelah penderita Kanker Leher Rahim, Kanker Payudara dan Kanker Paru.

Untuk diketahui, Kanker Nasofaring ini merupakan kanker yang muncul di daerah atas tenggorok dan di belakang hidung. Pada kanker ini, pertumbuhannya ditunjukkan dengan pembengkakan kanker, yang bisa menekan ke depan atau belakang, sisi kanan atau kiri di lokasi nasofaring yang memang letaknya tersembunyi.

" Kanker ini istilahnya kanker Orang Asia. Meski terjadi pula di Belgia dan Belanda itu karena banyak orang ras Asia, khususnya Tiongkok ke sana," kata Dr dr Andhika Rachman Sp PD-KHOM, dalam acara Bincang-bincang Bersama Ahli Kanker Kepala Leher di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Dalam kesempatan tersebut, secara singkat Dr Andhika menjelaskan alasan Kanker Nasofaring disebut sebagai "kanker milik Orang Asia". Menurut buku yang dirinya baca, jaman dulu diketahui belum ada alat pengawet makanan seperti mesin pendingin di Tiongkok. Sehingga banyak dari masyarakat mengawetkan makanan, yakni ikan dengan cara diasinkan dan diasapkan.

Namun siapa sangka, proses mengasinkan ikan dengan garam dan diasapkan ternyata memicu kanker pada penduduk Tiongkok. Usut punya usut, garam pada proses pengasinan mengandung nitrosamin (senyawa karsogenik). Seperti diketahui bahwa senyawa tersebut merupakan senyawa pemicu timbulnya kanker pada tubuh manusia.

"Senyawa karsinogen ini ada pada ikan asin, daging yang di asap. Kemudian kasus kanker mulai menyebar juga juga ke Amerika dan Eropa. Jadi kanker ini sejatinya dari Asia, termasuk juga Indonesia," kata Dr Andhika.

Dengan fakta tersebut, Dr Andhika mengimbau masyarakat untuk diet ikan asin dan segala produk yang diawetkan. Lagi-lagi, Dr Andhika juga memperingatkan masyarakat untuk tidak merokok dan berhenti merokok, serta tidak mengkonsumsi alkohol. "Sebetulnya debu, asap dan bahan kimia lainnya juga jadi faktor risiko kanker ini," tukasnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani