• News

  • Kesra

UGM Minta Presiden Pimpin Swasembada Sapi, Ini Idenya

UGM minta Presiden pimpin swasembada sapi.
Astragro
UGM minta Presiden pimpin swasembada sapi.

YOGYAKARTA, NNC– Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin langkah swasembada sapi secara nasional.

Upaya ini dipastikan akan mendorong peningkatan kesejahteraan peternak Indonesia sekaligus meningkatkan pasokan sapi potong bagi  kebutuhan masyarakat secara nasional.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada masyarakat, dan Kerjasama, Fapet UGM Bambang Suwignyo, Ph.D dalam keterangan tertulisnya Kamis, (3/5/2018).

Ia mengatakan, peran pengendalian presiden sangat menentukan keberhasilan program tersebut. Khususnya, dalam memberikan kepastian regulasi dan kebijakan untuk mendukung dan melindungi cita-cita berswasembada. Sebab, cita-cita itu memerlukan konsistensi, kejelasan tahapan dan pasti melibatkan banyak sektor serta jangka panjang.

“Satu-satunya jalan untuk berswasembada secara berdaulat adalah dengan cara meningkatkan populasi sapi dan kerbau di seluruh Indonesia. Mengingat besarnya kebutuhan masyarakat akan daging sapi dan kerbau, sementara produksi dalam negeri cukup rendah,” ungkap Bambang.

Sebelumnya, kata Bambang, pemerintah menargetkan program swasembada daging sapi pada tahun 2010, lalu direvisi menjadi tahun 2014. Kebutuhan daging sapi dapat diprediksi dari angka konsumsi daging sapi nasional yaitu sebesar 2,38 kg per kapita per tahun atau setara 21,27% dari total konsumsi daging nasional. Jika penduduk diasumsikan sejumlah 240 juta jiwa, maka diperlukan daging yang berasal dari sapi sejumlah 571,2 ribu ton per tahun.

“Dan jika dalam bentuk ternak hidup maka setara dengan ternak sapi sebanyak 4,76 juta ekor per tahun. Asumsinya, berat hidup sapi mencapai 300 kg per ekor,” terang Bambang.

Sementara itu, lanjutnya, swasembada sapi disebut berhasil ketika dapat memenuhi 90% dari kebutuhan nasional. Itu sebab, katanya lagi, pemerintah harus menyediakan sapi-kerbau untuk dipotong sejumlah 4,28 juta ekor. Jumlah ini setara dengan 31% dari total populasi yang ada.

Menurut dia, jika program swasembada sapi tetap dipaksakan memenuhi 90% kebutuhan daging sapi-kerbau hanya mengandalkan dari dalam negeri, dengan asumsi trend pertumbuhan ternak tidak berubah, maka sapi-kerbau Indonesia akan habis dalam waktu 5 tahun.

“Jika langkah ini tidak dikendalikan segera melalui swasembada sapi yang terarah, terencana, terprogram, dengan road map yang jelas dan terintegrasi, maka pemerintah dapat terjebak pada kesulitan lebih rumit untuk memenuhi kebutuhan sapi secara nasional.

Sehingga biaya yang diperlukan untuk kebutuhan itu menjadi kian melonjak,” papar Bambang.
Jumlah ideal sapi potong, jelasnya, untuk berswasembada adalah 62 juta ekor, sedangkan saat ini Indonesia baru ada sekitar 15 juta ekor. Sehingga tidak masalah jika pemenuhan daging sapi dikombinasikan dengan impor sampai jangka waktu tertentu atau sesuai road map.

Editor : Sulha Handayani