• News

  • Kesra

Yenny Wahid Klaim Kejahatan Terorisme Sasar Mahasiswa Jadi Pelakunya

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengklaim, kejahatan terorisme kini sasar mahasiswa untuk direkrut menjadi pelakunya.
Covesia
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengklaim, kejahatan terorisme kini sasar mahasiswa untuk direkrut menjadi pelakunya.

JAKARTA, NNC - Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengklaim, kejahatan terorisme kini sasar mahasiswa untuk direkrut menjadi pelakunya.

Di luar negeri, kejahatan terorisme sudah libatkan perempuan dan anak-anak. Anak-anak diculik dan dipasang bom saat berpergian ke pasar, Masjid atau sekolah dan dari jauh diledakkan. Apabila anak-anak tidak mau melakukannya, anak-anak diancam untuk dibunuh.

Pernyataan ini disampaikan Yenny menyusul terjadinya teror bom jaringan terorisme di Depok dan Surabaya beberapa waktu lalu. Menurut Yenny, gerakan yang telah paparkan pengaruhnya di Indonesia telah sasar kelompok rentan secara umum.

"Salah satunya mahasiswa, disasar karena masih pada fase pembentukan identitas diri, ingin melakukan sesuatu, berguna dan bisa melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup. (Mahasiswa) malah disasar lakukan jihad, tapi salah kaprah dan hanya dinilai seolah perang saja," kata Yenny dalam Diskusi Publik dengan tema "Melawan Teror: Dari Kampus Menyebar Damai" di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Ia mengatakan, di Bulan Ramadan bukanlah masa untuk berperang, melainkan masa untuk berbuat baik dan memperbaiki tatanan hidup.

Menurutnya, permasalahan dunia saat ini kompleks dan konotasinya teroris. Di sisi lain, Indonesia sempat disorot karena diklaim hebat karena meski beragam, terdiri dari berbagai suku, agama dan bahasa berbeda tetapi masih hidup rukun.

"Begitulah jeniusnya founding father Indonesia yang tentukan bahasa kesatuan, Bahasa Indonesia, belum lagi aneka ragam budayanya. Indonesia dianggap rukun oleh orang luar negeri, bisa kelola perbedaan namun kita semua terhenyak dengan serangan terorisme," ujarnya.

Namun menurut Yenny, Indonesia patut bersyukur karena masyarakatnya yang mayoritas cinta damai dibanding negara lain yakni 80 persen. Menurut survei nasional, 90 persen warga Indonesia setuju adanya tindakan tegas yang ditujukan pada tindakan teroris dan radikalisme.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang