• News

  • Kesra

Mengkhawatirkan, Ada 8 Kasus Inses Anak dan Ayah Kandung di Mataram Sepanjang Tahun Ini

ilustrasi kekerasan seksual pada anak.
Konvesi
ilustrasi kekerasan seksual pada anak.

JAKARTA, NNC - Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Edi Suharto merespon perkembangan kasus-kasus kekerasan anak yang terjadi khususnya di Lombok. Dari data yang tercatat di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA) Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Paramitha Mataram, angka anak korban kekerasan seksual, khususnya dari keluarga dekat, cukup tinggi.

Angka anak sebagai korban yang mendapat penanganan RSPA jumlahnya bervariasi setiap tahun, tapi paling tinggi pada tahun 2016 yakni mendekati angka 200. Kata Ketua RSPA dan Kepala Seksi BRSAMPK Paramita Mataram Agnes Rosalia, dari jumlah ini, sebanyak 90 persen adalah korban kekerasan seksual.

Pada tahun 2017, angkanya bergerak turun sedikit mencapai 150-an orang. Agnes tidak memiliki data mengapa terjadi penurunan, apakah tidak terlaporkan atau apakah karena kasusnya memang menurun.

"Untuk 2018 sampai dengan bulan Oktober, angkanya mencapai 85 orang. Statistik ini yang terlaporkan kepada kami. Angka sesungguhnya bisa jadi lebih besar. Karena ini kan seperti fenomena gunung es,” kata Agnes.

Ancaman nyata kekerasan seksual anak dari keluarga dekat, sangat mengkhawatirkan di Mataram. Pada 2016, misalnya, Agnes menyebutkan bahwa angka kekerasan seksual dari ayah kandung mencapai 27 kasus. Pelaku lain adalah dari ayah tiri, sepupu, paman, atau kakak adik.

“Tahun ini, 2018, inses dengan ayah kandung sebanyak 8 orang. Jumlah total dengan keluarga dekat sekitar 20-an. Yang termuda usia 12 tahun. Anak ini ditinggal ibunya bekerja sebagai tenaga kerja asing, lalu ayahnya melakukan kekerasan. Dari jumlah ini yang hamil sebanyak lima orang," kata Agnes.

Menurut Agnes, faktor yang dominan dari kasus-kasus kekerasan seksual ini, adalah faktor sosial. Selain anak-anak terpapar pornografi dari internet, faktor kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah.

Budaya lokal juga ada kontribusi. Misalnya budaya merari. Dimana pasangan muda yang saling suka lalu melarikan anak perempuannya, dan menikahinya. “Nah sebaiknya, ada kesadaran pada masyarakat agar tidak dinikahkan. Jadi ini tugas budayawan untuk membangun pemahaman,” sambung Agnes.

Kata Agnes, sejauh ini, RSPA sudah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak termasuk dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat untuk menekan angka kekerasan seksual pada anak.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P