• News

  • Kesra

Hampir 600 Kasus Terjadi Setiap Bulan, Smile Train Sediakan Layanan Operasi Sumbing Gratis

 Smile Train Indonesia sediakan layanan operasi sumbing gratis.
Dok: Pribadi
Smile Train Indonesia sediakan layanan operasi sumbing gratis.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Program Director and Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, setiap bulannya, ada sebanyak 500 hingga 600 kasus celah bibir atau celah langit di Indonesia. Celah bibir atau celah langit yang biasa dikenal sebagai sumbing ini lantas memberikan dampak bagi kelangsungan hidup penderitanya.

Pasien dengan sumbing dikatakan bisa memiliki masalah dalam berbicara, aktivitas makan hingga bernafas. Selain itu, pasien dengan kedaan sumbing juga memiliki tekanan psikologis karena malu akan keadaan yang dirasakan juga oleh keluarga.

Ditengah permasalahan tersebut, Smile Train hadir untuk memberikan harapan bagi para pasien sumbing dengan memberikan layanan operasi secara cuma-cuma, alias gratis.

“Smile Train sendiri merupakan organisasi amal internasional yang berfokus pada sebuah masalah tunggal serta dapat diperbaiki, dengan pendekatan yang berkelanjutan, yakni pada celah bibir dan celah langit. Upaya ini dilatarbelakangi karena jutaan anak di berbagai negara berkembang yang memiliki celah bibir dan celah langit, hidup dengan rasa malu dan terutama sulit makan, bernafas dan berbicara,” kata Deasy, baru-baru ini di Jakarta.

Bekerjasama dengan ahi bedah dan mitra rumah sakit, Smile Train menyediakan operasi gratis yang dapat mengambil waktu operasi sedikitnya 45 menit. Smile Train dinilai jadi sebuah solusi sederhana dengand ampak yang dapat mengubah masa depan anak menjadi lebih cerah.

Utuk memperoleh informasi terkait operasi celah bibir dan sumbing gratis dapat di cek melalui berbagai media sosial Smile Train, diantaranya: Facebook smiletrainindonesia, Twitter @SmileTrainID, dan Instagram @smiletrainindonesia.

Seperti yang dirasakan oleh Akhtar Faeyza, bayi berusia tujuh bulan ini lahir dari seorang ibu bernama Nurhasanah (37). Tak pernah muncul dibenak Nurhasanah bahwa dia akan melahirkan bayi dengan kondisi sumbing, sehingga usai kelahiran, keluarga sepakat untuk menutupi keadaan Akhtar dari Nurhasanah.

“Setelah melahirkan, saya tidak boleh melihat bayi saya. Sampai dua hari kemudian, saya marah karena tidak kunjung dipertemukan dengan anak yang telah dilahirkan, akhirnya keluarga menceritakan keadaan anak saya dan ternyata lahir dengan keadaan sumbing,” jelas Nurhasanah.

Nurhasanah tidak percaya bahwa anak yang dia kandung selama sembilan bulan dilahirkan dengan keadaan sumbing, karena saat proses USG ketika mengandung, yang dia ketahui bahwa keadaa bayi yang dikandungnya sehat. Selain itu, Nurhasanah juga mengaku tidak memiliki keluarga atau keturunan dengan keadaan sumbing.

“Apa iya anak saya ketukar?. Orang lain anaknya normal, kenapa bayi saya sumbing?,” keluh Nurhasanah saat itu.

Selepas pulang dari rumah sakit pasca melahirkan, Nurhasanah bersama suami mencari tahu terkait informasi bibir sumbing dan tata laksana operasi. Hingga akhirnya menemukan laman Facebook smiletrainindonesia dan mengikuti prosedur untuk bisa melakukan operasi gratis.

Diakui Nurhasanah, proses mendaftar hingga operasi berjalan cepat. Prosedur pertama yakni dengan mengirimkan foto keadaan pasien sumbing, setelah itu menunggu bayi berusia tiga bulan dan memiliki berat badan 5kg. Setelah itu diajukan untuk melakukan skrining dan hasilnya menunjukkan keadaan Akhtar sehat dan bisa langsung melakukan prosedur operasi.

“Akhtar dioperasi pada 17 Januari 2019 lalu di RS Hermina Galaxy, Bekasi, tanpa ada pungutan biaya apapun hingga melakukan kontrol setelah operasi. Sekarang dia sudah bisa tersenyum lagi. Alhamdulilah,” ujar Nurhasanah.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani