• News

  • Kesra

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, KPAI: Harga Rokok Indonesia Terjangkau Uang Saku Anak

 KPAI: Harga rokok Indonesia terjangkau uang saku anak.
KPAI
KPAI: Harga rokok Indonesia terjangkau uang saku anak.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) menyerukan pemerintah untuk dapat segera meratifikasi protocol Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Indonesia, demi kepentingan terbaik anak. Menurut Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty, dalam FCTC setidaknya diberikan penguatan langkah-langkah perlindungan melalui antara lain pengaturan harga jual rokok serta pajak dan cukainya.

Pernyataan ini disampaikan, pasalnga harga jual rokok di Indonesia termasuk harga jual yang rendah di tingkat Asia bahkan dunia.

"Harga jual yang rendah ini memungkinkan anak mudah mendapatkan rokok karena terjangkau oleh uang saku mereka. Terkait masalah cukai, perlu dijelaskan bahwa roko bukan produk normal," kata Hikmawatty pada Netralnews, Jumat (31/5/2019).

Selaim perlu dikenai cukai, konsumsi rokok juga perlu dikendalikan, dan peredarannya perlu diawasi (UU Cukai). Namun cukai yang saat ini di terapkan termasuk rendah sehingga perlu dinaikkan lebih tinggi lagi.

Hikmawatty juga komentari regulasi atau pengaturan tentang produk tembakau. Dikatakan rokok adalah zat adiktif pada UU Kesehatan, karenanya regulasi ini harus disamakan pula dengan klasifikasi Napza atau Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.

"Regulasi atau pengaturan tentang kemasan dan labelling produk tembakau perlu dilakukan revisi pada PP 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan," tegas Hikmawatty.

Menurutnya komunikasi, edukasi, informasi guna peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya rokok. Perlu dilakukan pembatasan hingga pelarangan Iklan, promosi dan sponshorship rokok, serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi bahaya kecanduan rokok.

Untuk diketahui, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menjelaskan Prevalensi Merokok Pada Anak mengalami kenaikan menjadi 9,1 persen dari capaian Riskesdas tahun 2013 yang hanya 7,2 persen. Sementara target yang diharapkan adalah penurunan di angka 5,4 persen.
 
"Jika dikaitkan dengan semakin maraknya iklan yang beredar terkait produk-produk tembakau termasuk rokok elektrik, terdapat korelasi yang signifikan. Kenaikaan iklan rokok termasuk menjadi pemicu meningkatnya keterpaparan anak dalam mengkonsumsi rokok, baik itu rokok konvensional maupun rokok elektrik," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?