• News

  • Kesra

5 Langkah Kemensos Tangani Bencana Konawe Utara dan Konflik Buton

Banjir di Konawe, Sulawesi
dok.Istimewa
Banjir di Konawe, Sulawesi

KENDARI, NETRALNEWS.COM - Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kementerian Sosial (Kemensos), Harry Hikmat mengatakan ada lima langkah yang dilakukan Kemensos dalam penanganan bencana di Konawe Utara dan Buton yakni Asesmen Kebutuhan Warga, Pengerahan personel Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Membuka Layanan Dapur Umum di lokasi pengungsian, Menyalurkan Bantuan, dan memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP).

Asesmen dilakukan oleh Tim Kemensos bekerja sama dan berkoordinasi dengan dinas sosial setempat. Asesmen mencakup kebutuhan mendesak pengungsi dan pendataan warga di pengungsian. Kemudian dapur umum didirikan untuk pemenuhan kebutuhan makanan warga terdampak banjir selama mereka berada di pengungsian.

Dapur umum lapangan ini dikelola oleh personel Tagana. Dapur umum juga melayani kebutuhan makanan relawan kebencanaan serta petugas penanggulangan bencana.

"Total personel tagana yang diterjukan ke Kabupaten Konawe Utara sebanyak 26 orang dan di Kabupaten Buton sebanyak 40 orang. Tagana membantu evakuasi, memobilisasi bantuan dan juga memberikan pendampingan kepada pengungsi," kata Harry Hikmat, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Netralnews, Kamis (13/6/2019).

Langkah berikutnya adalah LDP bagi pengungsi khususnya anak-anak di pengungsian. Layanan ini diberikan oleh Tim LDP Kemenaoa, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan relawan lainnya. Di Kabupaten Konawe Utara, LDP dilakukan di dua titik posko pengungsian dan Kabupaten Buton dilakukan di tiga titik pengungsian. Masing-masing LDP melekat dengan dapur umum lapangan di lokasi pengungsian.

Seperti diketahui hujan deras yang mengguyur Kabupaten Konawe Utara terjadi sejak Sabtu (1/6/2019) hingga Minggu (9/6/2019) menyebabkan meluapnya tiga sungai yaitu Sungai Lalindu, Lasolo dan Landawe sehingga mengakibatkan banjir di 6 kecamatan.

Bencana ini mengakibatkan 1.593 kepala keluarga atau 5.699 jiwa mengungsi (data per Selasa,11/6/2019). Sebanyak 185 rumah hanyut, ratusan hektar sawah, ladang dan tambak rusak diterjang air. Banjir juga merendam 1.235 rumah, 3 pasar, dan 5 bangunan masjid. Demikian pula fasilitas umum seperti jembatan terputus, puskesmas dan gedung sekolah terendam banjir, aliran listrik dan komunikasi terputus.

Sementara itu seperti diketahui konflik sosial di Kabupaten Buton yang terjadi pada Rabu (5/6/2019) dipicu lima kelompok masyarakat dari Desa Sampoabalo melakukan takbiran dengan membunyikan motor sangat keras, sehingga warga Desa Gunung Jaya tidak terima namun suasana dapat diredam aparat.

Sehari setelahnya, pada Kamis (6/6/2019) seorang pemuda Desa Sampuabalo kembali ke Desa Gunung Jaya membunyikan motor dengan suara sangat keras. Aksi tersebut menjadi awal konflik di Buton. Akibat konflik sosial tersebut, sebanyak dua orang meninggal dunia, empat jiwa mengalami luka berat, 87 rumah di Desa Gunung Wijaya hangus terbakar, dan 1.416 jiwa mengungsi. Warga mengungsi di 11 titik pada 3 lokasi yakni Desa Laburunci, Desa Lapodi, dan Kelurahan Kombeli.

Usai menyerahkan bantuan secara simbolis, Mensos bersama rombongan meninjau kondisi pengungsi yang tinggal tak jauh dari Sungai Wanggu, Kelurahan Lepo Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Mensos menyerahkan sembako dan berdialog dengan warga, serta menemui para personel Tagana di Posko Pengungsian untuk memberikan semangat dan apresiasi atas kerja cepat mereka membantu warga terdampak banjir.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya