• News

  • Kesra

Komnas Ungkap Penghukuman Tidak Manusiawi di Lapas dan Tempat Rehabilitasi Perempuan

Konferensi Pers Hari Anti Penyiksaan di Kantor Komnas HAM, Selasa (25/6/2019).
NNC/Martina Rosa
Konferensi Pers Hari Anti Penyiksaan di Kantor Komnas HAM, Selasa (25/6/2019).

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chozaifaha mengatakan, pihaknya selama ini telah melakukan pendokumentasian dan pemantauan berbagai pola penyiksaan pada perempuan. Pemantauan ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan tempat rehabilitasi di daerah Pasar Rebo dan Kedoya.

Pemantauan dilakukan beberapa tahun ke belakang, diantaranya terkait tahanan untuk konteks hukuman mati bagi buruh migran, bagi tahanan yang sudah bebas, dalam penantian hukuman mati, hingga sudah dieksekusi mati. Pihaknya juga melakukan pemantauan pada perempuan yang terpapar narkoba dan penjualan orang.

"Mereka (perempuan) yang menjalani penghukuman, yang dipenjara, atau yang di Lapas, hadapi penghukuman yang tidak manusiawi," kata Yuniyanti saat Konferensi Pers Hari Anti Penyiksaan di Kantor Komnas HAM, Selasa (25/6/2019).

Menurut Yuniyanti, salah satu bentuk penyiksaan adalah Lapas yang overload atau kelebihan kapasitas. Ini merupakan temuan dari lima lembaga, diantaranya Komnas Perempuan, Komnas HAM, Ombudsman, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
 
"Jadi mereka (tahanan), alami proses penghukuman yang tidak manusiawi. Sepanjang malam hanya duduk dan itu memicu berbagai macam konflik, seperti mulai dari buang air dan bersin juga memunculkan konflik," jelas dia.

Lebih jauh, Yuniyanti juga menilai bahwa Lapas overload tentu akan memberi dampak penyebaran penyakit. "Kalau Lapas overload, misal satu tahanan kena penyakit, maka semua berisiko," sambung dia.

Pada kesempatan tersebut, Yuniyanti juga mengapresiasi Kementerian Hukum dan HAM (KemkumHAM) yang telah terbuka pada lima lembaga yang telah disebutkan. Sejak April 2016, KemkumHAM telah melakukan MoU dengan lima lembaga untuk memberi masukan dan mengoreksi.

"Kami berharap, Kepolisian, TNI buka ruang juga seperti ini," harap dia.

Hari Anti Penyiksaan

Untuk diketahui, setiap 26 Juni di seluruh dunia, komunitas internasional memperingati Hari Anti Penyiksaan, sebuah momen yang berawal dari langkah penting Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mulai memberlakukan Konvensi Anti Penyiksaan pada 26 Juni 1987. Momen tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat dunia bahwa penyiksaan, tindakan tidak manusiawi atau merendahkan martabat adalah perbuatan ilegal secara universal.

Di saat yang sama, tanggal tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan dukungan bagi para korban dan penyintas penyiksaan di seluruh dunia.

Menyambut moment tersebut, Komisi Nasionai Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ombudsman Repubiik indonesia (ORI), dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bersama-sama mengadakan kegiatan dialog publik untuk merefleksikan pentingnya pencegahan penyiksaan.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P

Apa Reaksi Anda?