• News

  • Kesra

Pola Rekrutmen Pelik, KPAI Dorong Pengungkapan Kasus Perdagangan Orang Bandung-Jatim

Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah.
KPAI
Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pengungkapan kasus perdagangan orang hingga ke akar-akarnya, mulai dari Bandung hingga ke Jawa Timur karena ada pola rekrutmen baru yang diklaim sangat pelik.

Pernyataan ini disampaikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah menyusul adanya kasus lima dari 12 orang perempuan korban perdagangan orang di Situbondo Jawa Timur. Korban diketahui berusia di bawah 18 tahun.

Kata Ai, korban didatangkan dari Kota dan Kabupaten Bandung Jawa Barat. Mereka lantas sedang ditangani oleh pemerintah provinsi Jawa Timur baik psikologis serta pelayanan rehabilitasi sosial, termasuk proses hukum di TKP.

"KPAI mengapresiasi Polres Situbondo yang sedang menangani proses hukum, sampai saat ini sudah menangkap lebih dari tiga pelaku dari sindikat dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) untuk tujuan eksploitasi seksual," kata Ai, seperti dalam keterangan tertulisnya pada Netralnews, Rabu (7/8/2019).

KPAI juga mengapresiasi penanganan medis dan assesmen psikologis yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan cepat dan profesional. KPAI juga meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mendampingi dan melindungi anak korban, sekaligus saksi dalam kasus ini.

KPAI untuk selanjutnya mendorong percepatan koordinasi antar provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat yang akan jadi penentu berhasilnya pemulihan serta reintegrasi anak korban dengan keluarga.

"Untuk korban anak KPAI mendorong system rehabilitasi sosial anak korban TPPO berbasis pada pemenuhan hak anak dengan sarana dan prasaranan yang mendukung mental dan psikologis anak, serta memperhatikan kebutuhan khas anak seperti koordinasi dengan keluarga, penempatan rehabsos khusus anak dan intervensi sesuai dengan perkembangan anak," jelas Ai.

Melihat profil anak putus sekolah yang sedemikian besar, KPAI juga meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meningkatkan program sekolah non formal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk lebih mendekatkan akses pendidikan pada anak.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P