• News

  • Kesra

UKP-DKAAP: Ketegangan Sering Dibumbui Agama Seolah Jadi Konflik

Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Syafiq Mughni
Netralnews/Martina Rosa
Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Syafiq Mughni

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Syafiq Mughni mengatakan, sumber ketegangan di tengah masyarakat bisa terjadi dan datang dari mana saja. Namun Syafiq sayangkan, berbagai ketegangan kerap dibumbui agama dan seolah menjadi konflik agama.

Menurut Syafiq, diperlukan peran tokoh-tokoh agama yang mendedikasikan diri bisa mengatasi dan meredam konflik berbumbu agama tersebut. Menghadapi hal ini, diperlukan upaya membangun budaya damai yang permanen dan berkelanjutan.

"Sumber ketegangan bisa terjadi dan datang dari mana saja. Sering dibumbui agama, seolah jadi konflik agama," kata Syafiq saat konferensi pers Musyawarah Nasional (Munas) Tokoh Antaragama Untuk Membangun Budaya Damai, Selasa (10/9/2019).

Upaya membangun budaya damai yang permanen dan berkelanjutan bisa dibangun melalui agama karena agama mengandung sisi emosional dan banyak dimensi yang digunakan untuk melihat kepercayaan setiap agama. Dalam hal ini, tidak lagi dibicarakan terkait perbedaan keyakinan dan ibadah, melainkan pada masalah kemanusiaan yang jadi hajat hidup bersama.

Misalnya masalah pendidikan, bahwa semua orang perlu pendidikan dan berupaya meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), yang memerlukan suasana damai. Pihaknya ingin menanamkan terkait pentingnya hidup bersama pada peserta didik untuk saling menghormati antar penganut. Tokoh-tokoh agama dalam Munas juga lantas bisa menjadi contoh teladan yang bisa dilihat oleh kalangan pelajar.

"Tokoh agama bisa bekerjsama melakukan hal yang sama, selama tifak terkait keyakinan masing-masing. Pendidikan ini jadi isu strategis dan ciptakan budaya damai yang berkelanjutan dalam mempengaruhi dan memperbaiki perilaku.

Terkait isu ekonomi, bagaimana komunitas agama bisa membentuk koperasi untuk memenuhi kebutuhan, walaupun selama ini sudah ada koperasi bersifat sekuler. Apabila koperasi bisa dibentuk oleh komunitas multiagama, maka akan ada dampak berbeda dan berkelanjutan, menurut Syafiq.

Terkait isu kesehatan, bisa dibahas terkait stunting, HIV, TBC, dan isu kesehatan lain yang berdampak pada bangsa. Sama halnya dengan isu lingkungan, dimana dirasakan bumi sudah semakin panas dan penduduk banyak namun luas bumi tidak bertambah dan banyak dampak lingkungan.

"Maka dari itu, bagaimana tokoh-tokoh agama juga bisa hadapi itu semua dan memiliki peran," kata dia.

Untuk diketahui, Munas sendiri akan dilaksanakan pada 11-14 September 2019 mendatang di Hotel Shangri-La, Jakarta. Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan hadir untuk membuka acara, dilanjutkan dengan sesi-sesi yang diisi oleh delapan pembicara.

Munas diselenggarakan bekerjasama dengan majelis-majelis agama, diantaranya: Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Tinggi Agama Konghucu (MATAKIN).

Kegiatan ini berbentuk musyawarah dengan semangat persaudaraan dan tanggung jawab dan bertujuan untuk mewujudkan tekad bersama serta merumuskan bentuk-bentuk kerjasama untuk membangun budaya damai.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya