• News

  • Kesra

Ini 4 Rencana Layanan Dukungan Psikososial Pasca Konflik Wamena

Sejumlah warga mengungsi dari Wamena pasca terjadinya kerusuhan.
IDNtimes
Sejumlah warga mengungsi dari Wamena pasca terjadinya kerusuhan.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pada senin (23/9/2019) telah terjadi kerusuhan sosial di Wamena. Hal ini dipicu kabar bohong (hoaks) dugaan tindakan berbau rasis yang dilakukan oleh oknum guru ke muridnya.

Akibat kerusuhan tersebut, menyebabkan jatuhnya korban meninggal dunia, perusakan serta pembakaran kendaraan bermotor dan bangunan milik pemerintah maupun warga sipil. Hal ini menyebabkan warga mengungsi di beberapa titik.

Peristiwa ini menyebabkan 32 jiwa meninggal dunia, 9.240 jiwa mengungsi, 77 jiwa mengalami luka-luka, 224 mobil terbakar, 150 motor terbakar, 165 rumah rusak karena terbakar, 20 unit perkantoran rusak, 465 unit tempat usaha warga rusak. Sementara itu jumlah pengungsi hingga 1 Oktober sebanyak 6.112 orang.

Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Milly Mildawati mengatakan untuk penanganan pascakonflik Wamena, pihaknya telah menyusun rencana intervensi yakni:

1. Membuat jadwal kegiatan bersama anak-anak dan perempuan dewasa, serta pria dewasa di titik-titik pengungsian setipa pagi dan sore hari;

2. Prioritas kegiatan untuk anak-anak adalah bermain yang bertujuan rekreasional;

3. Prioritas untuk penyintas perempuan dewasa dan pria dewasa adalah stress release untuk mengurangi tension mereka akibat mengalami kejadian traumatis;

4. Advokasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar. 

"Aktifitas rekreasional bersama anak-anak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bermain anak. Sedangkan untuk penyintas perempuan dan pria dewasa kegiatannya meliputi percakapan sosial yang bertujuan memberikan ruang komunikasi (katarsis mental), mendengarkan (menampung) keluhan dan harapan para penyintas," terang Milly, Jumat (4/10/2019).

Tim LDP juga mengajak penyintas melakukan relaksasi imajinatif. Tujuannya membuat penyintas merasa tenang dengan mengajak penyintas berhenti sejenak (istirahat) dari pikiran dan perasaan negatif.

Berikutnya adalah relaksasi otot progresif yang bertujuan melemaskan otot yang tegang agar menjadi rileks dan membantu mempermudah untuk tidur.

"Kepada petugas Dapur Umum Tagana di Posko Utama dan Relawan Sosial yang tediri dari para guru diberikan PMR (Progressive Muscle Relaxation) karena petugas lapangan pun rentan mengalami secondary traumatic dan nantinya mereka bisa mengajarkan kepada petugas atau penyintas lainnya," kata Milly.

Ditambahkan Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita, sebanyak enam titik lokasi pengungsian telah mereka kunjungi secara reguler yakni di Kodim, Polres, Gereja Bethlehem, Gereja Advent, Gereja Homhom dan Masjid Baiturrahman di Wamena.

"Di setiap lokasi tim melakukan pendataan penyintas dan mengajak anak-anak bermain. Kemudian untuk orang dewasa dilakukan doa bersama di masjid dan gereja-gereja," kata Mensos.

Dikatakannya, hasil asesmen Tim LDP menunjukkan pada umumnya aspek kognitif penyintas menunjukkan perilaku kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa, khawatir akan tidak jelas bagaimana masa depannya.

Sementara pada aspek emotifnya penyintas merasa takut, cemas, khawatir, tegang, sering terkejut apabila mendengar suara keras, selalu waspada, curiga, sedih tidak tenang saat tidur malam. 

"Ini adalah bentuk Negara Hadir dalam pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial Pasal 38," terang Mensos. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli