• News

  • Kesra

Ini Kisah Samsiah, Pengungsi Pascakonflik di Wamena

Samsiah saat ditemui Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat.
Humas Kemensos
Samsiah saat ditemui Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat.

WAMENA, NETRALNEWS.COM - Tangis Samsiah (45) pecah saat Tim Kementerian Sosial (Kemensos) mengunjungi tenda pengungsian di Kodim 1702/Jayawijaya, Rabu (5/10/2019).

Perempuan yang tengah duduk di velbed bantuan Kemensos ini menutup mukanya dengan selimut. Isak tangisnya membuat sesama pengungsi mendekat dan berusaha menenangkan. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat menghampiri dan mencoba berbicara dengan sang ibu. 

"Saya ingin Wamena aman, Bapak. Supaya anak-anak saya bisa kembali sekolah," kata Samsiah lirih membuka percakapan, seperti keterangan yang Netralnews terima, Minggu (6/10/2019).

Di antara isak tangisnya, Samsiah bercerita saat kerusuhan anaknya sedang bersekolah. Perempuan asal Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan ini mengaku bersama warga mengungsi ke Kodim. Anaknya, yang duduk di bangku SMP, ditemukan berlindung di sebuah gereja. Dia kemudian dijemput dan dipulangkan ke Takalar sampai situasi di Wamena kondusif dan aktivitas sekolah mulai berjalan.

"Harapan kami adalah keamanan di lingkungan kami. Supaya bisa hidup tenang bersama keluarga," kata Samsiah.

Dirjen Harry mengatakan, situasi psikologis warga pascakonflik umumnya masih merasa takut, cemas, khawatir, tegang, sering terkejut apabila mendengar suara keras, selalu waspada, murung dan sedih, serta tidak tenang saat tidur malam.

"Untuk itu sebagaimana arahan Menteri Sosial Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita, kami terus melakukan rehabilitasi sosial untuk memulihkan kondisi psikologis mereka," kata Dirjen.

Dia menjelaskan proses rehabilitasi sosial dilakukan dengan memberikan layanan dukungan psikososial. Beberapa cara di antaranya mengajak terus beraktifitas, melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan bersama-sama pengungsi lain, sehingga tidak melamun berkepanjangan dan perlahan dapat menyembuhkan trauma. 

Dicontohkan Harry, penyintas di pengungsian ikut memasak di dapur umum, berdoa bersama, mengajak mereka untuk membersihkan lingkungan, hingga relaksasi imajinatif dan relaksasi otot progresif.

"Seperti yang dilakukan oleh personel Kodim 1702/Jayawijaya, Polres Jayawijaya, pengungsi, pemda, dan relawan dalam Karya Bakti Bersama. Mereka berkeliling membersihkan sekolah-sekolah yang rusak, puing-puing kantor pemerintahan, rumah-rumah warga, pasar, dan jalan raya," terang Dirjen.

Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Chandra Dianto mengatakan situasi di Wamena perlahan mulai kondusif. Hal ini terlihat dari aktivitas masyarakat sudah mulai membuka toko, mulai keluar rumah, lalu lintas di jalan sudah mulai ramai lalu lalang kendaraan.

"Melalui kegiatan Karya Bakti Bersama harapannya kota bisa tertata lagi sehingga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan kembali seperti biasa," kata Dandim.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada Kemensos atas bantuan logistik dan peralatan dapur umum yang sangat bermanfaat saat terjadi lonjakan jumlah pengungsi pada hari pertama pascakerusuhan.

"Awalnya dapur umum memasak menggunakan logistik Kodim dan peralatan seadanya. Menggunakan panci-panci kecil dan memasak dengan kayu bakar. Hari kedua pascakerusuhan Tim Kemensos sudah di Wamena dan diberikan perlengkapan dapur umum dan sampai saat ini dapur umum berjalan dengan baik," terangnya.

Salah seorang warga di pengungsian, Ami (34) yang ditemui di Dapur Umum Pengungsian Kodim menceritakan setiap hari ia memasak bersama ibu-ibu Persit (Persatuan IStri Tentara) memasak dua kali sehari. Untuk sarapan diberikan roti, susu, dan sereal dari Kodim.

"Siang tadi masak nasi, sayur cap cay, dan opor ayam. Kalau untuk malam ini menunya tumis kangkung dan telur rebus masak balado," kata Ami.

Sementara itu berdasarkan data dari Kodim 1702/Jayawijaya, data pengungsi di Wamena hingga Sabtu petang (5/10/2019) tercatat sebanyak 2.636 jiwa dengan rincian tempat pengungsian Kodim 1702/Jayawijaya (1.254 jiwa), Polres Jayawijaya (662 jiwa), Koramil 1702-03/Wamena (150 jiwa), Subdenpom Wamena (29 jiwa), Gereja Betlehem (35 jiwa), Yonif 756/WMS (19 jiwa), Gereja Efata (22 jiwa), Masjid (37 jiwa), Gereja Advent (95 jiwa), Gereja El-Shadday (50 jiwa), Masjid Pasar baru (20

jiwa), Gedung Pikeyro (16 jiwa), Kantor KPU (7 jiwa), Gang Nirwana (12 jiwa), Pabrik tahu Hom Hom (20 jiwa), tersebar di perumahan penduduk(208 jiwa).

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli