• News

  • Kesra

Siswa Meninggal Dunia Karena Dihukum Terlambat ke Sekolah, Ini Tanggapan KPAI

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti.
NNC/Martina Rosa
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dunia pendidikan berduka, kali ini seorang peserta didik FL (14) dari salah satu SMP swasta di Manado, Sulawesi Utara diduga meninggal dunia saat menjalani hukum fisik karena datang terlambat ke sekolah.

Dijelaskan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti, korban dan tujuh siswa lain yang terlambat mulanya dijemur di halaman sekolah selama 15 menit di bawah terik matahari.

Setelah itu, guru memerintahkan para siswa yang terlambat untuk lari keliling lapangan halaman sekolah sebanyak 20 kali putaran, baru putaran ke-4, FL ambruk tersungkur ke depan dan tak sadarkan diri.

"Korban segera dilarikan ke rumah sakit AURI, kemudian di rujuk ke RS lain, namun nyawanya tidak dapat ditolong. Ananda menghembuskan nafas terakhirnya di RS Malalayang," kata Retno dalam keterangan tertulis yang Netralnews terima, Minggu (6/10/2019).

Atas peristiwa tersebut, KPAI mengecam sekolah-sekolah yang diduga masih menerapkan hukuman fisik atas nama mendisiplinkan siswa. Padahal menurut Retno hukuman fisik selain tidak menimbulkan efek jera, juga akan berdampak buruk pada tumbuh kembang seorang anak.

"Sementara masih banyak orang dewasa, baik orangtua maupun guru yang beranggapan bahwa kekerasan dan hukuman fisik adalah cara paling ampuh mendisiplinkan anak. Ini cara pandang keliru dan berpotensi kuat melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak," jelas Retno.

Kata Retno, Kepala SMP tempat anak korban bersekolah membenarkan bahwa korban dan tujuh anak lainnya hari itu mendapatkan hukuman fisik di jemur dan lari keliling lapangan sekolah karena terlambat hadir di sekolah. Dari penjelasan Kepala Sekolah, diduga kuat hukuman fisik bagi anak yang terlambat biasa dilakukan pihaknya, alasannya pasti mendisiplinkan siswa agar memiliki efek jera.

Menurut Retno, ada banyak cara mendisiplinkan peserta didik tanpa harus melakukan kekerasan dan hukuman fisik lain, yaitu dengan membangun disiplin positif sebagaimana di terapkan sekolah-sekolah ramah anak.

Hukuman fisik yang tidak mempertimbangkan kondisi anak kerap dilakukan oleh orang dewasa di sekitar anak, meskipun korban sudah banyak berjatuhan.  Dari olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menyebut ukuran lapangan yang diputari 68 meter persegi, kalau perintahnya harus 20 kali putaran maka semua anak dihukum berlari sejauh 1360 meter persegi (68 M x 20). 

Kata Retno, saat mengelilingi lapangan, FL sempat bicara ke temannya sudah dalam kondisi tidak lagi kuat berlari, namun korban maupun temannya pastilah takut menyatakan hal tersebut kepada sang oknum guru yang memberikan hukuman.

KPAI lantas menyayangkan sikap Kepala Dinas Pendidikan  dan kebudayaan  setempat yang menyatakan akan melakukan pendampingan pada semua, baik oknum guru maupun sekolah karena merupakan keluarga. Jika pernyataan yang dikutip media online itu benar, maka KPAI sangat mengingatkan bahwa sikap tersebut tidak sesuai dengan amanat Pasal 39 UU Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

"Prinsip undang-undang tersebut menyatakan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan perlindungan hukum kepada guru ketika guru menjadi korban bukan sebagai pelaku pidana," tegas Retno.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P