• News

  • Kesra

Kemendikbud Bantah Server UNBK Diretas


istimewa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Pusat Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kapuspendik Kemendikbud) Nizam mengatakan soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tidak bisa diretas karena akses ke "server" langsung ditutup begitu selesai ujian.

"Sekarang beredar banyak di sosial media yang menyebut peretas bisa mengakses "server" Puspendik dan menyebarkan soal dengan fomat "portable document format" atau pdf. Hal itu tidak benar, karena "server" langsung ditutup begitu selesai ujian," ujar Nizam dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/4/2016).

Jadi, lanjut Nizam, yang diakses oleh para peretas adalah "server" lokal yang ada di sekolah. Oleh karena itu, Nizam berharap para peserta UN tidak percaya dengan bocoran-bocoran yang beredar.

"Pesannya, adalah bagaimana anak-anak kita menjadi generasi pemenang dan tidak tergoda dengan bocoran. Generasi ke depan, harus bebas korupsi. Maka salah satu caranya adalah dengan UNBK," kata Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada itu.

Kemendikbud juga menggandeng komunitas-komunitas peretas untuk membantu pengamanan pelaksanaan UNBK.

Sejauh ini, lanjut dia, belum ada kendala berarti dalam pelaksanaan UNBK dan UN berbasis kertas dan pensil. Permasalahan yang terjadi adalah gangguan "server".

"Tahun ini ada yang berbeda, jika sebelumnya telepon terus berdering karena banyak masalah. Maka pada tahun ini jauh berkurang."

Sementara itu, Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Supriyatno, mengatakan meski pada tahun ini tidak ada laporan mengenai kesulitan dalam mengerjakan UN, bukan berarti Balitbang menurunkan mutu soal.

"Tidak ada penurunan. Hanya kisi-kisi pada tahun sebelumnya, terlalu spesifik, sekarang diperlebar. Tujuannya bukan mereduksi anak, tapi lebih mempersiapkan anak," kata Totok.

Sebanyak 3.302.673 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) di Tanah Air mengikuti Ujian Nasional (UN), yang dimulai pada Senin (4/4/2016).

UNBK diikuti sebanyak 4.402 sekolah atau sekitar 927.000 siswa. Sebelumnya pada 2015, UNBK diikuti 594 sekolah. UNBK disinyalir lebih efesien serta dapat meminimalisir bentuk kecurangan. Sekolah juga tak perlu harus mengadakan peralatan komputer, namun hanya menggunakan peralatan yang tersedia. Jika tak mencukupi, sekolah bisa menggunakan peralatan di sekolah lain yang tidak melaksanakan UN.

Komputer sekolah yang mengikuti UN tersebut dipasangi aplikasi yang kemudian aplikasi tersebut terus diperbaharui melalui enkripsi. Peserta UNBK juga akan kesulitan berbuat curang karena soal yang didapat para siswa bersifat acak. Sehingga siswa satu dan yang lain mengerjakan soal yang tidak sama.

Mengenai pengawas, pada UN berbasis kertas ada dua pengawas di setiap kelas, sedangkan untuk UNBK terdapat satu teknisi dan satu proktor yang memastikan siswa melaksanakan UNBK sesuai dengan prosedur.

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Antaranews.com