• News

  • Kesra

"Dancing For Justice", Harapan Untuk Korban Rekayasa Kasus JIS

Dancing for Justice (Netralnews/Martina Rosa)
Dancing for Justice (Netralnews/Martina Rosa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kawan8 berkolaborasi dengan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan berbagai elemen masyarakat menggelar rangkaian kegiatan flashmob bertajuk ‘Dancing For Justice’. Kegiatan yang melibatan ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat ini digelar di lokasi Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu (5/3/2017).

Dancing For Justice’ merupakan sebuah satir masyarakat sipil yang mengekspresikan pandangannya atas keadilan yang tidak didapatkan para korban kasus JIS 2014. Dimana tujuh terpidana (satu meninggal dalam tahanan polisi) divonis oleh pengadilan atas tuduhan palsu dan investigasi dengan niat jahat. Tuduhan kekerasan seksual yang dialamatkan kepada tujuh orang tersebut tidak pernah terjadi.

Flashmob dilakukan sebagai sebuah perlawanan atas hilangnya keadilan dalam ruang-ruang pengadilan. Janji reformasi hukum yang didengung-dengungkan pemerintah dan lembaga hukum, dinilai baru sebatas kosmetik agar terlihat sungguh-sungguh dimata masyarakat. Sejatinya, sistem hukum Indonesia dinilai masih memiliki banyak kelemahan, dan kasus JIS 2014 adalah contoh nyata yang ada di depan mata.

“Kasus tuduhan kekerasan seksual di JIS pada 2014 lalu secara kasat mata merupakan kasus yang diadili oleh opini publik melalui media massa (trial by the press). Penegak hukum yang diharapkan dapat berlaku adil dan melihat kasus ini secara obyektif, justru menjadikan opini publik sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan,” ujar Koordinator Kawan8, Endang Sulistari dalam laporan tertulis yang redaksi terima dari Humas Jakarta Intercultural School (JIS).

Kasus ini dikatakan Sulis merupakan contoh kecil bagaimana hukum dilemahkan. Dengan adanya keadilan dalam kasus ini, ia berharap tidak terulang lagi pada kasus-kasus lainnya, sehingga orang yang tidak bersalah dan keluarganya tidak perlu menjadi korban seperti pada kasus ini. “Kita harus menjadikan kasus ini sebagai pelajaran agar ketidakadilan hukum, khususnya bagi orang kecil, dapat diakhiri di Indonesia,” tambah perempuan yang akrab disapa Sulis ini.

Kegiatan ini juga diisi oleh pembacaan puisi yang bertemakan harapan pada dewi keadilan. Selain menginformasikan kepada publik, kegiatan ini juga untuk memberikan dukungan kepada tujuh orang tidak bersalah yang masih mendekam dalam penjara. Menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri dan mendukung keluarga-keluarga korban dalam mencari keadilan.

“Tidak peduli berapa lama dan bagaimana beratnya perjalanan mendapatkan keadilan, kami akan terus memperjuangkan pembebasan tujuh orang dan meminta negara merehabilitasi nama baik mereka. Dan dengan Dancing For Justice, kita terus menjaga harapan untuk tetap hidup. Dan harapan tersebut adalah keadilan,” tukas Sulis.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang