• News

  • Kesra

Diseleksi, Pemulangan 10.000 Koleksi di Museum Nusantara Belanda ke Indonesia

 Museum Nusantara di Delft, Belanda (nusantara-delft.nl)
istimewa
Museum Nusantara di Delft, Belanda (nusantara-delft.nl)

TEMANGGUNG, NETRALNEWS.COM – Meski pihak Museum Nusantara di Delft, Belanda bersedia mengembalikan benda koleksi dari Indonesia ke Tanah Air, tetap perlu diseleksi. Sebab, tidak semua barang yang ada di sana penting dan berharga.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid di Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (5/3/2016) menuturkan, suatu museum yang isinya adalah barang-barang yang oleh pegawai kolonial di masa lalu setelah selesai mereka bertugas di sini dibawa pulang dan dipamerkan.  “Isinya macam-macam mulai dari kain hingga patung," kata Dirjen Kebudayaan susai meninjau Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo.


Menurutnya, koleksi yang ada di Belanda itu termasuk benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu menarik, dan di sini juga banyak ditemukan, misalnya wayang golek, bahkan di sini umurnya lebih tua sehingga tidak perlu membawa jauh-jauh dari Belanda.

"Soal pengembalian itu suatu isu dan tentu kita harus melihat kepentingan nasional. Apa pentingnya barang-barang tersebut kembali, jangan dikira semua barang yang ada di sana itu penting dan berharga," katanya.

10.000 Koleksi
Disebutkan, yang dilakukan sekarang adalah menyeleksi barang-barang koleksi itu, kalau tidak diseleksi dari sekitar 10.000 koleksi bisa jadi 80 % di sini merupakan rongsokan.

"Kita tidak mau bawa pulang 'rongsokan', kita mau barang yang mempunyai makna di sini. Jumlahnya berapa belum bisa disampaikan sekarang. Akan diseleksi sesuai keperluan yang ada," katanya.

Menurut dia perlu dibedakan semangat barang-barang yang sudah lama dibawa ke luar negeri untuk dibawa pulang, namun kalau tidak ada manfaatnya bagi pengembangan pengetahuan, kebudayaan justru hanya akan memakan tempat bahkan museum di sini kekurangan ruang.

"Jangan lupa bahwa di sana isu utama itu bukan karena memulangkan, tetapi karena museumnya tutup, mereka juga tidak punya gudang dan mau dikirim lagi balik ke sini secara glondongan.Saya bilang 'rongsokan' bukan semua barang jelek, tetapi maksudnya menghindari duplikasi dan membawa pulang barang yang bisa bermanfaat bagi ilmu pengetahuan," katanya.

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Antaranews.com