• News

  • Megapolitan

Dinkes Jakut Klaim Segala Upaya Dilakukan untuk Atasi Gizi Buruk

Ilustrasi gizi buruk
poskota
Ilustrasi gizi buruk

JAKARTA, NNC - Kepala Suku Dinas kesehatan Jakarta Utara, M. Helmi mengungkapkan, berbagai upaya telah dilakukan semua pihak dalam menangani anak-anak yang mengalami gizi buruk di Jakarta Utara.

Menurut Helmi, dari 194 penderita gizi buruk di Tahun 2017, kini hanya tinggal 34 orang, atau menurun sekitar 82,5 persen. "Mudah-mudahan tahun 2018 ini jumlahnya makin sedikit lagi, bila perlu gak ada, mudah-mudahan sih. Maunya seperti itu," kata Helmi kepada NNC, Jumat (2/2/2018).

Helmi menyebut, ada beberapa upaya yang dilakukan pihaknya dalam menangani gizi buruk. Pertama, melakukan deteksi dini oleh ahli-ahli gizi yang ditempatkan diberbagai wilayah Jakarta Utara.

"Tentunya upaya kita selama ini adalah, satu deteksi dini dengan merekrut tenaga-tenaga gizi dan menempatkan mereka sampai dengan puskesmas kelurahan. Sehingga deteksi dini lebih cepat daripada penimbangan-penimbangan di posyandu," paparnya.

Hal ini juga dibantu oleh petugas kesehatan lewat program 'Ketuk Pintu Layani Dengan Hati' yang dibuat sejak era Gubernur dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat.

"Dengan adanya tim Ketuk Pintu Layani Dengan Hati atau KPLDH yang memang sudah ada jajaran dinas kesehatan, membantu kita juga dengan menemukan penderita di lapangan. Selain itu, teman-teman di Puskesmas juga melakukan inovasi-inovasi dilapangan untuk mendeteksi dini terhadap penderita," ucap dia.

Sementara upaya kedua mengatasi gizi buruk adalah penderita diberikan makanan tambahan yang disebut 'Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan.' Hal ini dibarengi dengan pengobatan, termasuk didalamnya pemberian vitamin A.

"Kan mereka itu ada dua kelompok, ada yang disertai dengan penyakit, ada yang tidak. Jadi penyakit menyebabkan dia asupan gizinya kurang, yang kedua gizi kurang juga menyebabkan dia penyakit," tuturnya.

"Jadi kalau yang ada penyakit-penyakitnya kita obati juga penyakitnya. Karena kalau gak diobati gizinya percuma kalau kita berikan. Selain makanan tambahan kita juga berikan vitamin A. Itu memang sudah program baku," imbuh Helmi.

Upaya lain adalah menganjurkan ibu-ibu yang masih menyusui untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka. "Selanjutnya, kita tetap menganjurkan ibu-ibu supaya memberikan ASI eksklusif ke anaknya, lewat penyuluhan-penyuluhan," pungkasnya.

Bahkan, lanjut Helmi, ada upaya-upaya yang diinisiasi oleh camat dengan kepala puskesmas setempat, yakni mengumpulkan dana dari pegawai-pegawai di dilingkungan kecamatan untuk membeli bahan makanan bagi penderita gizi buruk.

"Terus juga, ada salah satu puskesmas kecamatan, ini juga lintas sektornya membantu, di Kecamatan Cilincing itu, Pak Camatnya setiap hari Senin mengumpulkan sumbangan-sumbangan dari pegawainya. Nah uangnya itu dibelikan bahan-bahan makanan yang berupa sayuran dan lain-lain, itu inisiatif Pak Camat bekerja sama dengan Kepala Puskesmas kecamatannya," tukasnya.

Bahan makanan yang dibeli itu, dijelaskan Helmi, akan diolah oleh para ibu dari penderita gizi buruk, yang kemudian diberikan kepada anak-anak mereka.

"Jadi ibu-ibu penderita juga diajarin memasak yang baik, memasak yang benar supaya gizinya cukup. Terus setelah masak selesai gak langsung pulang, tapi ditungguin sampai anaknya itu makan," tandasnya.

"Jadi mereka juga punya semboyan seperti pemadam 'pantang pulang sebelum anaknya makan.' Itulah upaya-upaya dan inovasi-inovasi dari teman-teman. Itu terutama yang kita berikan," tutup Helmi.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono