• News

  • Megapolitan

Warga Jakarta Menderita karena Banjir, Dimana Suara Aktivis yang Dulunya Lantang?

Banjir di Kampung Melayu
NNC/Adiel Manafe
Banjir di Kampung Melayu

JAKARTA, NNC - Banjir Jakarta, menjadi bencana yang sudah bisa diprediksi kapan datangnya, karena telah menjadi masalah tahunan di ibukota. Bahkan dianggap biasa oleh sebagian warga yang mengalaminya.

Kumuh, sampah, air yang keruh, mengungsi, hingga penyakit yang dialami warga, adalah persolan yang sering dijumpai ketika banjir. Bahkan, anak-anak yang rentan sakit dan seharusnya tinggal di hunian yang bersih, justru terlihat berteman dengan kondisi yang memprihatikan itu di lorong-lorong pemukiman warga yang terdampak.

Sayangnya, sejauh ini yang dilakukan Pemprov DKI dibawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno, masih sebatas menyalurkan bantuan bagi para korban banjir, tapi belum ada solusi untuk menyelamatkan mereka dari masalah tersebut.

Anies-Sandi sempat mengungkapkan rencana membuat sumur resapan, naturalisasi sungai, hingga normalisasi keberpihakan kepada warga, tapi itu masih sebatas rencana.

Menurut pengamat politik Arbi Sanit, sebenarnya langkah yang tepat sudah dilakukan pemerintahan DKI sebelumnya, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Langkah yang dimaksud yakni, menormalisasi kali, melakukanan relokasi warga ke rusun, hingga melakukanan penertiban. Hasilnya titik banjir berkurang lebih dari 50 persen.

Namun begitu, Arbi menyebut, saat suasana Pilkada DKI 2017, banyak pihak termasuk sejumlah aktivis dan LSM dengan lantang menentang langkah Ahok-Djarot, dengan alasan tidak manusiawi, tidak berpihak pada rakyat kecil, dan sebagainya.

"Dimana suara aktivis yang dulunya lantang dan berkoar-koar ini salah, itu salah? Sekarang melihat kondisi warga yang kian memprihatikan? Masih punya nurani kah mereka untuk bersuara? Apakah mereka pura-pura buta? Apa bersuara tergantung pilihan politik?" kata Arbi kepada NNC, Kamis (8/2/2018).

Tak hanya itu, Arbi juga mempertanyakan solusi mengatasi banjir dari pihak-pihak yang dulunya menentang normalisasi sungai dan penertiban, serta merelokasi warga ke rusun yang dilakukan Ahok-Djarot.

"Mereka harusnya bersuara. Turun dan lihat langsung di lapangan. Tapi kenyataannya tidak ada keberanian moral lagi, karena lidahnya sudah digigit. Dulu merasa benar. Sekarang ternyata salah dan mungkin mereka shock. Sekarang mungkin mereka malu bahwa argumennya salah," tegas Arbi.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?