• News

  • Megapolitan

Hukum Mati, Polisi Terlibat Kasus Penyalahgunaan Narkoba

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis
NNC/Toar Sandy P
Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis

JAKARTA, NNC - Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis mengaku lehernya terasa sakit bila mendengar ada anak buahnya tertangkap tangan terlibat kasus penyalahgunaan narkoba. Ia mengaku rasanya ingin sekali menampar aparat yang malah melakukan tindak pidana.

"Kalau dengar ada anak buah saya kena narkoba langsung leher saya sakit. Langsung pengen saya ini langsung pengen datang ke tahanan, saya tempelengin itu," kata Idham di Mapolda Metro Jaya, Rabu (5/12/2018).

Idham merasa bagi anggota kepolisian yang terlibat kasus penyalahgunaan narkotika baiknya dihukum mati. Dia sendiri minta para Kapolres di wilayah hukum Polda Metro Jaya tak takut menindak tegas para bandar narkoba.

"Kalau hukuman sipil yang pakai narkoba itu bisa sampai 10 tahun. Kalau Polisi yang tahu aturan main, tahu polisi pakai narkoba, itu harusnya dia di hukum mati," ujarnya.

Namun, karena tak bisa seenaknya melakukan itu, dia minta setiap anggotanya yang kedapatan terlibat kasus penyalahgunaan narkotika untuk langsung dipecat saja. Idham mau, oknum yang terlibat langsung menjalani proses hukum tapi sudah bukan bagian dari Korps Bhayangkara lagi.

Dia menegaskan tidak takut kekurangan personel akibat memecat lantaran Idham mengaku Polda Metro Jaya punya banyak anggota. Idham menegaskan pemecatan itu tidak akan berdampak pada goyangnya jumlah anggota kepolisian.

Semua ini dikatakan buntut adanya empat anggota Polda Metro Jaya yang terjerat kasus narkoba. Idham mengatakan telah minta Bidang Proram Polda Metro Jaya mengusut tuntas kasus yang melibatkan anggota Direktorat Sabhara tersebut.

"Kemarin di Direktorat Sabhara ada empat anggota yang ketangkap narkoba. Saya prihatin anggota itu baru berpangkat Bripda, NRP 94 kalau enggak salah. Artinya dia baru berumur 24 tahun, ketangkap empat orang," tambahnya.

Reporter : Toar Sandy Purukan
Editor : Wulandari Saptono