• News

  • Megapolitan

Survei LPP UI 'Teror' Bagi Gerindra

Angggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Gerindra Syarif
Angggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Gerindra Syarif

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Survei yang dilakukan oleh Laboratrium Psikologi Politik Universitas Indonesia (LPP UI) yang diketuai oleh Profesor Hamdi Muluk, dinilai politisi Partai Gerindra Syarif sebagai 'teror' secara ilmiah terhadap Gerindra.

Alasannya, survei bertemakan "Menakar Kandidat DKI 1" yang melibatkan sekitar 200 pakar, di mana lebih dari 60 persen berlatar belakang profesor dan doktor itu, kesimpulannya tidak bisa direkomendasikan.

"Saya bilang ini sebagai teror ilmiah buat nakut-nakutin Gerindra. Karena dalam suatu kajian akademis meskipun kita hormati kita apresiasi, tapi kita harus liat konteksnya gitu, masak kesimpulannya tidak bisa direkomendasikan, kan gitu," kata Syarif kepada Netralnews.com, Sabtu (6/8/2016).

Apalagi hasil survei menyebutkan nama tiga besar tokoh yang menduduki posisi teratas yang tidak direkomendasikan pada Pilkada DKI 2017 mendatang adalah calon-calon hasil penjaringan bakal calon gubernur dari Partai Gerindra, di antara Sjafrie Sjamsoeddin, Yusril Ihza Mahendra, dan Sandiaga Salahuddin Uno.

"Loh itu kan ditunjukkan untuk calon kita semua loh, kan ada Pak Sjafrie, Pak Yusril, dan Pak Sandiaga. Di situ disebutkan tidak bisa direkomendasikan. Tiga-tiganya diserang," ungkapnya.

Menurut Syarif, sah-sah saja jika melakukan survei, dan mungkin secara ilmiah memang benar. Tapi, dengan tidak merekomendasikan kesimpulannya, maka dalam perspektif politik, itu bisa dianggap teror ilmiah bagi partai tertentu.

"Betul, betul, bolehlah secara ilmiah betul, gak salah, Tetapi ilmuan itu nampaknya takut mem-publish seperti itu. Itu yang disebut teror ilmiah. Dia ilmiah memang, metodenya bisa diuji, kesimpulan tidak bisa direkomendasikan dalam perspektif politik itu kan teror ilmiah, kan gitu," jelas Syarif.

Lebih jauh Syarif mengibaratkan, survei tersebut ibarat memotret dari udara, dengan kondisi cuaca yang sangat buruk namun tetap dipaksakan mengambil foto.

"Secara metodelogi, saya mengibaratkan seperti orang foto dari udara, seperti potret dari udara, mungkin saja cuacanya lagi buruk dipaksa foto. Jadi hasilnya begini," katanya.

Meski hasil survei terkesan memojokkan partainya, namun Syarif tidak mau berprasangka buruk, akan adanya kemungkinan ditunggangi oleh salah satu kandidat.

"Oh gak, saya gak sejauh itu, saya masih punya prasangka baik kok. Cuma maksudnya, arahnya menteror aja dalam tanda kutip ya," ujarnya.

Sebelumnya, LPP UI melakukan survei terhadap sembilan tokoh atau kandidat yang maju pada Pilkada DKI 2017, di antaranya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Djarot Saiful Hidayat, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Suyoto, Sjafrie Sjamsuddin, Tri Rismaharini, Yoyok Riyo Sudibyo, dan Yusril Ihza Mahendra.

“Tiga nama yang paling tidak direkomendasikan pakar untuk menjadi gubernur Jakarta adalah pengacara dan politisi Yusril Ihza Mahendra (43,8 persen), mantan Wamenhan Sjafrie Sjamsuddin (17,33 persen) dan calon gubernur dari Partai Gerindra Sandiaga Uno (29,78 persen),” kata Ketua LPP UI Profesor Hamdi Muluk di Menteng, Senin (1/8/2016).

Sementara untuk calon yang paling direkomendasikan menjadi Gubernur DKI Jakarta dipegang oleh petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yaitu sebanyak 79,74 persen.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Y.C Kurniantoro