• News

  • Megapolitan

Penanganan Macet Tunjukkan Hasil Positif, PDIP: Anies Jangan Berpuas Diri

Ilustrasi kemacetan di Jakarta.
IDN Times
Ilustrasi kemacetan di Jakarta.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Fraksi PDIP DPRD DKI meminta Pemprov DKI Jakarta agar tidak terlalu berpuas diri dengan hasil pencapaian indeks dalam penanganan kemacetan serta menekan angka polusi yang dirilis lembaga survei luar negeri TomTom

Anggota Fraksi PDIP, Yuke Yurike mengatakan, penurunan kemacetan harus diukur dengan kecepatan perjalanan di seluruh ruas jalan DKI Jakarta

"Program kemacetan Pemprov DKI Jakarta belum berjalan. Baik itu Jak Lingko atau Transit Oriented Development (TOD). Jadi, DKI jangan cepat bangga," kata Yuke, Senin (17/6/2019).

Sebelumnya TomTom merilis, pada 2018, tingkat kemacetan Jakarta menurun dari 61 persen pada 2017 menjadi 53 persen pada 2018, lembaga tersebut juga menempatkan Jakarta dalam peringkat tujuh yang paling tercemar di dunia, naik dari peringkat keempat pada 2017. 

TomTom mencatat Senin (18/6/2018) silam, menjadi hari dengan tingkat kemacetan terendah di Jakarta. Adapun kemacetan terburuk di Jakarta tahun lalu terjadi pada Kamis (15/6/2018).

Lebih lanjut Yuke menjelaskan, survei TomTom dilakukan pada 2018 sebelum MRT beroperasi dan Jak Lingko baru sebatas dua-tiga trayek angkutan bus kecil. 

Namun, saat itu ada perhelatan Asian Games yang mengubah beberapa kebijakan pengendalian lalu lintas, khususnya perluasan sistem ganjil-genap. 

Dalam pandangan politisi PDI Perjuangan, kemacetan itu berkurang ketika pola transportasi makro berjalan, di antaranya perbaikan dan penambahan moda transportasi yang saling terintegrasi; penambahan infrastruktur transportasi dan pengendalian lalu lintas. 

"Nah, kalau pengendalian lalu lintas masih manual dan tidak diperluas. Sulit mengatakan kemacetan berkurang di Jakarta. Jadi, saya melihat kemacetan berkurang di Jakarta itu saat penyelenggaraan Asian Games saja," tutur anggota Komisi B ini.

Untuk itu, dirinya meminta Pemprov DKI Jakarta dituntut serius dalam mengatasi kemacetan di Ibu kota. Sistem Transportasi yang saling terintegrasi serta penegakan hukum yang tegas juga diperlukan untuk mengurai kemacetan.

"Bersama dengan seluruh stake holder baik Kemenhub maupun Dishub di Bodetabek untuk mengembangkan transportasi dari dan ke daerah permukiman ke kota serta ke bandara," terangnya.

Sebagai informasi, lima kota di dunia yang paling macet pada 2018 adalah Mumbai di India yang menempati peringkat pertama. Kemudian berturut-turut diikuti Bogota (Kolombia), Lima (Peru), New Delhi (India), dan Moskow (Rusia). TomTom menyebut hari terbaik pada 2018 dengan kemacetan terendah di penjuru dunia adalah pada 25 Desember.

Indeks TomTom mengumpulkan data di 403 kota di 56 negara di 6 benua secara live. Data itu dapat digunakan para pengemudi, perencana perkotaan, manufaktur automotif, dan pembuat kebijakan dengan memanfaatkan data statistik dan informasi tentang level kemacetan di tiap kota. Persentase level kemacetan itu mewakili jumlah waktu perjalanan tambahan yang dialami para pengemudi selama setahun penuh.

 

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Widita Fembrian