• News

  • Megapolitan

Kualitas Udara Jakarta Buruk, PLN Tegaskan Tak Ada Sebaran Debu dari PLTU

Ilustrasi pembangkit listrik.
Setkab
Ilustrasi pembangkit listrik.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Executive Vice President (EVP) Corporate Communication PT PLN (Persero) I Made Suprateka menegaskan bahwa bukan PLTU yang menjadi salah satu pencemar buruknya kualitas udara di DKI Jakarta akhir-akhir ini.

Ia beralasan, lokasi PLTU dan PLTGU Muara Karang dan juga PLTGU Priok terletak di bagian utara Jakarta. Demikian pula PLTU Batubara Lontar ada di Provinsi Banten.

Sedangkan, radius sebaran dampak emisi PLTU batubara SOX atau NOX terjauh adalah 30 km, dengan asumsi adanya emisi gas buangnya terdekat Batubara Lontar Banten, yang jaraknya 70 km dari pusat kota Jakarta.

Saat ini, menurut Made, sejumlah PLTU yang pembangunannya dilakukan baik oleh PT PLN (Persero) ataupun oleh para perusahaan sebagai IPP (Independent Power Producer), kebanyakan sudah menggunakan teknologi berbasis Super Ultra Critical Represitator, di mana debu yang keluar ditangkap dan dapat diendapkan, sehingga dapat dicegah penyebarannya.

"Dengan demikian tidak ada lagi sebaran debu, karena volumenya sangat minim (hanya 2%) dari produksi energi batubara dari operasional PLTU," imbuhnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Menurutnya, dari batubara yang dikonsumsi, maksimal hanya 20% yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Sementara dari 20% PLTU tersebut, hanya 2% yang berpotensi menghasilkan polusi.

“Saat ini sudah berkembang teknologi penangkap debu (Super Ultra Critical Represitator). Hal tersebut dapat disaksikan juga pada Shanghai Energy Power Plant, di mana pembangkit listrik di Shanghai tersebut, tingkat kebersihannya setara atau sama dengan rumah sakit. Ada pun suplai kebutuhan listrik di Indonesia kebanyakan berasal dari PLTU, mengingat belum dapat terpenuhinya kebutuhan energi di lokasi tersebut yang berasal dari EBT,” pungkasnya.

Sebagai informasi, limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batubara pembangkit listrik, atau disebut fly ash dan bottom ash (faba) sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai substitusi bahan baku; sebagai substitusi sumber energi; ataupun bahan baku sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian Teddy Caster Sianturi menjelaskan, dalam perkembangannya faba dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat seperti genteng atau produk lain seperti paving block.

Namun yang menjadi masalah, kata Teddy, prosedur yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk limbah industri terlalu kaku alias rigid.

"Karena didasarkan kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 tahun 2014, faba dimasukkan sebagai limbah B3, dan dilakukan dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup,” jelas Teddy.

Sementara itu, sejumlah industri seperti TPT, petrokimia, semen, dan pupuk, dan berbagai manufaktur lainnya juga mulai mengganti sumber energinya ke batubara. Termasuk juga PT PLN (Persero) banyak membangun PLTU yang energi primernya adalah batubara.

Selain itu, munculnya berbagai pemberitaan yang menyebutkan posisi Indonesia, khususnya DKI Jakarta, yang tingkat polusinya cukup tinggi, menjadi peluang bagi industri memanfaatkan berbagai sumber energi baru dan terbarukan (EBT).

Pasanya, salah satu penyebab buruknya kualitas udara Jakarta disinyalir berasal dari asap kendaraan bermotor yang semakin pesat digunakan masyarakat. Saat ini, penggunaa energi fosil capai 95% dari total bauran energi yang ada. Pemerintah juga memacu kontribusi EBT dapat meningkat jadi 23% pada 2025.

Editor : Irawan.H.P