• News

  • Nasional

Tionghoa: Mengirimkan Pesan Antikorupsi Melalui Kue Bacang

Kue bacang (domi lewuk)
Kue bacang (domi lewuk)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kue Bacang, bagi masyarakat Tionghoa, memiliki makna lebih dari sekadar makanan. Bacang memiliki tautan sejarah panjang terhadap perjuangan melawan korupsi.

Bacang juga digunakan oleh masyarakat Tionghoa di zaman Zhan Kuo (339 SM-277 SM) pada Raja Chu Huai Wang, untuk mencari jenazah seorang menteri bernama Qu Yuan yang tewas bunuh diri di Sungai Mi Luo. Menurut sumber ceritera ini bacang-bacang tersebut dilemparkan ke sungai dengan harapan agar ikan-ikan tidak memakan jasad sang menteri.

Konon katanya, semasa hidupnya, sang menteri dikenal sebagai bangsawan yang berintegritas dan dicintai rakyatnya. Tradisi melempar bacang ini kemudian menjadi tradisi turun-temurun dan dilakukan dalam Festival Peh Cun setiap 9 Juni, untuk mengenang perjuangan Qu Yuan melawan birokrat korup.

“Kali ini kami merayakan Festival Peh Cun dengan semangat kebangsaan Indonesia, yaitu memberikan bacang sebagai simbol kejujuran pada pejabat yang telah berupaya membasmi korupsi dan merawat integritas profesi,” ujar anggota Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Gema Inti), Vincent, saat berkunjung ke Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa waktu lalu. 

Dalam kesempatan itu, turut hadir duta pariwisata dan budaya Tionghoa Koko Cici Jakarta. Mereka beraudiensi dan menyampaikan dukungan bagi KPK dalam perlawanan korupsi.

Kehadiran para tokoh muda Tionhoa tersebut disambut antusias oleh fungsional Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK Wuryono Prakoso.

Menurut Vincent,semangat bacang tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pihak penegakkan hukum umumnya, dan khususnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Harapannya, bahwa nilai antikorupsi bisa terus ditanamkan dengan beragam cara, termasuk melalui upacara adat dan kebudayaan.

“Kami harap generasi muda juga menjadi bagian dalam penyebaran nilai antikorupsi. Kisah Qu Yuan dapat menjadi inspirasi untuk melawan korupsi,” ujarnya.

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Hila Japi