• News

  • Nasional

Pengamat: Jika Keluarga Soeharto Tak Patuhi Hukum, Ini yang Bakal Terjadi

Pengamat politik Karyono Wibowo
dok.potretsulsel
Pengamat politik Karyono Wibowo

JAKARTA, NNC - Massa yang menamakan diri Komite Penyelamat Aset Negara, menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Graha Dana Abadi (Granadi), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/12/2018), untuk menuntut agar gedung tempat Yayasan Supersemar milik presiden ke-2 Soeharto itu segera disita.

Aksi demonstrasi itu merupakan reaksi dari sikap keluarga Soeharto yang tidak kooperatif terhadap putusan Mahkamah Agung yang memvonis yayasan Supersemar sebagai tergugat II harus mengembalikan kerugian negara sebesar 4,4 triliun karena yayasan Supersemar terbukti secara sah melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana putusan MA 140 PK/Pdt/2015.

"Tapi faktanya, hingga saat ini yayasan Supersemar yang diketuai Soeharto tersebut baru menyetor sebesar 242 miliar. Pihak yayasan Supersemar yang terkesan tidak kooperatif terhadap putusan hukum tersebut bisa membangkitkan amarah rakyat," kata pengamat politik Karyono Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima NNC, Senin (17/12/2018).

Bahkan Direktur Ekskutif Indonesia Public Institute (IPI) ini berpendapat, tidak menutup kemungkinan akan ada aksi lebih besar jika keluarga Soeharto tidak pada hukum dan segera mengembalikan dana sebesar 4,4 triliun ke negara.

"Karenanya, pihak yayasan dan keluarga Soeharto jika ingin tidur nyenyak lebih baik patuh pada hukum dan segera mengembalikan dana sebesar 4,4 triliun ke negara. Jika tidak maka bisa memancing gelombang perlawanan rakyat yang lebih besar lagi dan merembet ke kasus lain yang belum terjamah oleh hukum," ujar Karyono.

"Menurut saya ini bukan sekadar gertakan, karena berbagai kelangan masyarakat dari lembaga anti korupsi, akademisi dan aktivis 98 serta berbagai elemen masyarakat sudah mulai menggeliat melawan kembalinya rezim orde baru," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya