• News

  • Lingkungan

Fenomena MJO Masuki Samudera Hindia, Ini Dampak bagi Indonesia

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.
Netralnews/Martina Rosa
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, intensitas hujan tinggi yang menyebakan banjir di Sulawesi telah diprediksikan karena fenomena aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation ( MJO) yang memasuki wilayah Samudera Hindia

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah memprakirakan 1-5 Juni 2019 potensi hujan lebat di beberapa wilayah, antara lain di wilayah Sulawesi. BMKG juga telah menginformasikan terkait potensi curah hujan tinggi hingga 5 hari ke depan, 11-15 Juni 2019. 

"Wilayah-wilayah dengan potensi hujan lebat pada periode tersebut antara lain Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua," kata Sutopo, Selasa (11/6/2019).

Merespon bencana yang terjadi di beberapa wilayah tersebut, BNPB klaim terus melakukan pemantauan dan pengiriman tim reaksi cepat ke lapangan. Bantuan dana siap pakai juga telah diberikan kepada pemerintah daerah.

" BNPB mengimbau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk selalu siaga dalam menghadapi fenomena cuaca tersebut," kata Sutopo.

Pernyataan ini menyusul curah hujan dengan intensitas tinggi yang memicu banjir di beberapa wilayah Sulawesi pada awal Juni 2019. 

Sejumlah kabupaten terdampak banjir di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Bencana di beberapa provinsi tersebut menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan pada sektor pemukiman, pertanian, perikanan serta fasilitas umum.    

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian

Apa Reaksi Anda?