• News

  • Nasional

Orang Tionghoa Tinggalkan Kota Kerusuhan Tanjungbalai

Ilustrasi - Vihara Tri Ratna di Tanjngbalai, Smatera Utara (medanbisnisdaily.com)
Ilustrasi - Vihara Tri Ratna di Tanjngbalai, Smatera Utara (medanbisnisdaily.com)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dihantui trauma kerusuhan anti-Tionghoa pada tahun 1998, sejumlah warga Tanjungbalai, Sumatera Utara, telah meninggalkan rumah mereka menyusul penggeledahan baru-baru ini dan pembakaran vihara dan pagoda di kota pelabuhan tersebut.

Tony alias Aci, warga keturunan Indonesia-Tionghoa, mengatakan bahwa mereka yang telah meninggalkan kota kerusuhan Tanjungbalai begitu trauma dengan kejadian, takut bahwa 1998 kerusuhan anti-Tionghoa akan diulang, bahwa mereka telah memutuskan untuk pergi ke luar negeri.

Dia mengatakan banyak orang Tionghoa pergi ke Malaysia dan Singapura karena kedua negara berada dekat dengan Tanjungbalai.

"Banyak dari mereka masih belum kembali dari Malaysia dan Singapura. Mereka mengatakan mereka masih trauma," Tony, yang menjalankan bisnis sendiri, berkata kepada The Jakarta Post, Rabu (10/8/2016).

Dia mengatakan dia berada di Singapura ketika kerusuhan pecah di kota pada akhir Juli dan melihat banyak orang keturunan Tionghoa dari kotanya Tanjungbalai tiba di Singapura. Dia sendiri takut untuk kembali ke rumah selama tiga hari setelah kerusuhan.

"Siapa yang tidak takut pada waktu itu? Semua candi dibakar dan dihancurkan, seperti dalam kerusuhan pada tahun 1998," kata Tony, yang mengatakan ia sebelumnya selalu merasa nyaman tinggal di Tanjungbalai.

Masalahnya dilaporkan dimulai ketika seorang wanita lokal Meliana, seorang wanita keturunan Tionghoa, mengeluhkan volume loudspeaker bahwa masjid lokal yang digunakan untuk menyiarkan adzan (panggilan untuk salat).

Pesan provokatif kemudian beredar di media sosial mengatakan wanita itu melemparkan batu ke masjid dan tegas berhenti doa dan ini diyakini telah memicu kemarahan penduduk setempat.

Ketua Tri Ratna Vihara Yayasan Petjong Li, juga dikenal sebagai Akhun, mengatakan dia sangat terkejut bahwa kerusuhan itu dipicu oleh keluhan Meliana ini.

"Kami sangat menyesal keluhan Meliana, yang memicu insiden di Tanjungbalai," kata Akhun setelah ia menemani seorang anggota parlemen mengamati kerusakan candi Tri Ratna.

Dia mengatakan bahwa karena Meliana, seorang wanita yang tidak dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa di Tanjungbalai, harmoni antar agama di kota itu telah pecah dan kuil-kuil terbakar. Dia mengungkapkan harapan bahwa orang-orang yang terlibat akan menghadapi hukuman atas tindakan mereka.

Empat belas kuil di Tanjungbalai dibakar dan dijarah oleh massa pada Jumat malam dan Sabtu pagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam insiden itu tapi kerusakan bernilai miliaran rupiah.

Polisi setempat sejauh ini menangkap 21 tersangka dalam kasus tersebut. Mereka terdiri dari delapan penjarah, sembilan orang yang dituduh membakar atau menggeledah kuil dan empat provokator, di antaranya dua di bawah umur.

Seorang tokoh masyarakat di Tanjungbalai, Zulkifli Marpaung, mengatakan sejumlah pengusaha besar telah meninggalkan kota ketika kerusuhan pecah. Zulkifli mengatakan ia tidak tahu di mana mereka pergi.

"Mereka meninggalkan pada malam kerusuhan," kata Zulkifli.

Zulkifli mengatakan bahwa tidak semua kota telah dipengaruhi oleh kerusuhan tapi pengusaha masih tersisa karena kekhawatiran kerusuhan besar meletus seperti yang terjadi pada tahun 1998.

Walikota Tanjungbalai M. Syahrial mengatakan, dia tidak mendengar laporan dari eksodus warga Tionghoa, tetapi beberapa mungkin telah meninggalkan kota karena khawatir keselamatan.

Dia memberi jaminan bahwa kota itu saat damai dengan tidak ada laporan dari kesulitan.

"Ini aman sekarang. Tidak ada yang harus meninggalkan kota," katanya.

Syahrial meminta semua warga yang telah meninggalkan kota untuk kembali dan kembali ke rutinitas sehari-hari mereka.

Pada tahun 1998, masyarakat Tionghoa-Indonesia ditargetkan oleh massa dan banyak anggota masyarakat tewas dan diperkosa. Massa menyalahkan Tionghoa-Indonesia untuk krisis ekonomi yang menyebabkan kejatuhan presiden Soeharto.

Editor : Hila Japi
Sumber : The Jakarta Post