• News

  • Lingkungan

SPPSI Tawarkan Penanganan Dampak Limbah ke Petani Tambak melalui Kearifan Lokal

  SPPSI tawarkan penanganan dampak limbah ke petani tambak melalui kearifan lokal.
SPPSI
SPPSI tawarkan penanganan dampak limbah ke petani tambak melalui kearifan lokal.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Musibah tumpahan minyak dan gelembung gas Pertamina di lokasi pengeboran lepas laut milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ), Karawang, Jawa Barat terjadi pada 12 Juli 2019.

Ada delapan desa terdampak cemaran minyak, dua desa di Kabupaten Bekasi dan enam desa di Kabupaten Karawang. Upaya pembersihan atau sterilisasi terus dilakukan, termasuk oleh Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia (SPPSI).

"Sebagai serikat pekerja yang berada di Pertamina, kami (SPPSI) merasa terpanggil. Kita juga akan berupaya menangani musibah ini, dengan fokus menangani dampak. Artinya kita akan mengorganisir masyarakat sekitar dalam menangani dampak," kata Anggota Dewan Pembina SPPSI, Fahrur Roezi, Minggu (11/8/2019).

Pengurus dan anggota SPPSI telah melakukan survei ke Kecamatan Pakis Jaya, salahsatu kecamatan yang terkena dampak tumpahan minyak di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Minggu (11/8/2019).

Sebelumnya, dengan adanya tumpahan minyak mentah yang merambah pesisir Pantai Tanjung Pakis, membuat para petani tambak kuatir akan pengelolaan tambaknya. Upaya yang dilakukan para petani dengan membendung aliran air menggunakan tali penahan.

"Itu kurang efektif. Meski mampu menghalau kotoran maupun limbah, tapi tidak menghilangkan limbah itu sendiri," ujar Fahrur Roezi.

Dikatakannya, pemanfaatan kearifan lokal dengan penggunaan bambu serta buah Bintaro dapat dilakukan guna menetralisir limbah beracun. Terlebih kata dia, bambu dan buah Bintaro merupakan kearifan lokal yang banyak terdapat di Kecamatan Pakis Jaya.

"Bambu berfungsi menahan kotoran berupa kerak limbah dan film dipermukaan air. Sementara buah Bintaro berfungsi untuk menetralisir limbah beracun," jelasnya.

Dirinya menerangkan, limbah berbahaya dan beracun bagi lingkungan, karena komponen utama minyak bumi berupa rantai panjang hidrokarbon sulit terdegradasi secara alami di dalam tanah. "Pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat limbah minyak bumi dapat ditanggulangi dengan proses bioremediasi yang dilakukan oleh serat atau buah Bintaro," terangnya lagi.

Menurutnya, penggunaan kearifan lokal atau bahan lokal yang mudah didapat, menjadi salahsatu opsi yang ditawarkan dalam penanganan dampak dari tumpahan minyak Pertamina. Dirinya mengatakan upaya pencegahan kearifan lokal ini yang akan dibahas bersama nelayan di pesisir Pantai Tanjung Pakis.

Sekedar diketahui, hingga saat ini Pertamina telah memobilisasi 29 kapal, 3.500 meter oil boom offshore, 3.000 meter oil boom shoreline, dan 700 meter fishnet di pesisir pantai terdampak.

Pada 12 Juli 2019, pukul 01.30, muncul gelembung gas dan tumpahan minyak di sumur YYA-1 area ONWJ, pada saat reperforasi. Gelembung gas muncul di Anjungan YY dan Rig Ensco-67.

Kemunculan lapisan minyak (oilsheen) di permukaan laut sekitar gelembung gas terlihat pada 16 Juli 2019. Awal kemunculan gelembung gas diduga hanya terjadi anomali tekanan saat reaktivasi sumur.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Sulha Handayani