• News

  • Lingkungan

Pandeglang Terima Alat Deteksi Dini Guncangan Gempa, Ini Kecanggihannya

 Pandeglang menerima alat deteksi dini besaran guncangan gempa dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo bersama Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita.
Istimewa
Pandeglang menerima alat deteksi dini besaran guncangan gempa dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo bersama Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita.

PANDEGLANG, NETRALNEWS.COM - Pandeglang menerima alat deteksi dini besaran guncangan gempa dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB), Doni Monardo bersama Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Dwikorita.

Alat ini diterima oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang yang diwakilkan Bupati Pandeglang, Irna Narulita.

Alat tersebut bernama Earthquake Early Warning System (EEWS) yang akan bekerja memberi sinyal sekurang-kurangnya 13 detik sebelum gempa terjadi. Sinyal gempa akan diterima oleh BMKG pusat dan kemudian akan diteruskan ke masing-masing BPBD yang telah memiliki alat tersebut.

Setelah data rekaman diterima, maka wewenang kemudian diserahkan sepenuhnya kepada pihak BPBD untuk mengambil tindakan dan kebijakan yang dianggap perlu sebagai reaksi cepat tanggap darurat bencana kepada masyarakat.

Kepala BMKG meminta agar alat pendeteksi gempabumi hibah dari jepang itu selalu dijaga dan dirawat agar bisa berfungsi sesuai dengan tujuan dan manfaatnya.

Selain itu, Dwikorita berpesan kepada semua pihak untuk tidak merusak alat-alat pendeteksi dan pengirim sinyal yang ada di lapangan agar dapat berfungsi dengan baik.

"Ingat, ya. Saya mohon dengan sangat agar beberapa alat pendeteksi dini yang sudah kita pasang jangan dirusak, apalagi diambil. Ini demi kemaslahatan bersama," tegas Dwikorita.

Pernyataan tersebut disampaikan Dwikorita disela kegiatan simulasi evakuasi tsunami yang merupakan rangkaian dari Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 di Shelter Tsunami, Labuan, Pandeglang, Banten, Rabu (14/8/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB juga mengingatkan bahwa bencana alam bisa berulang. Selain pentingnya jenis alat Early Warning System (EWS) itu, hal lain yang harus dimiliki dalam menghadapi ancaman risiko bencana adalah peningkatan kapasitas manusia. Tanpa ada pengetahuan masyarakat tentang bencana dan mitigasnya, maka alat pendeteksi itu akan sia-sia.

"Selain alat ini, kapasitas masyarakat harus ditingkatkan. Karena nantinya jangan sampai menjadi sia-sia, ketika ada sirine gempa atau tsunami tapi masyarakatnya tidak tahu harus berbuat apa saat peristiwa alam itu terjadi. Jadi harus seimbang", terang Doni.

Usai melakukan simulasi gempa, evaluasi simulasi dan serah terima alat pendeteksi guncangan gempabumi, Kepala BNPB dan Kepala BMKG melanjutkan kegiatan dengan memasang rambu rawan tsunami dan menanam mangrove sebagai sabuk pantai alami di Pantai Galau yang didampingi Bupati Pandeglang hingga kepala desa setempat.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian