• News

  • Nasional

Inovator 4.0 ke Istana, Bawa Harapan Baru, Ini Penjelasannya

Presiden Jokowi menerima inovator 4.0.
Dok: Inovator
Presiden Jokowi menerima inovator 4.0.

JAKARTA, NETRALNENEWS.COM - Presiden Jokowi dan Menteri Riset, Teknologi & Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir di Istana Kepresidenan RI, Senin 19 Agustus lalu menerima sekelompok 35 kaum intelektual dan seniman yang mewakili grup "Inovator 4.0" yang dipimpin oleh Budiman Sudjatmiko.

Grup ini mempresentasikan solusi mereka untuk masalah kesehatan, pendidikan, pertumbuhan ekonomi, seni dan energi terbarukan di Indonesia melalui teknologi inovatif dan model investasi kreatif.

Budiman Sudjatmiko  adalah lulusan  Cambridge University dan SOAS University of London. Ia memberikan inspirasi pulang dan membangun bangsa bagi para Diaspora (ahli dan profesional yang tinggal di luar negeri) dengan menjadi salah satu penyusun UU Desa yang kini memberikan pembiayaan hingga Rp1 miiliar per tahun bagi pembangunan desa.

Dari 35 orang yang terkemuka dalam bidangnya masing-masing itu ada antara lain pakar neuroscience Dr. Ryu Hasan, manager Google dan YouTube Indonesia Wafa Taftazani, sutradara Hanung Bramantyo dan Fajar Nugros, komponis dan pianis Ananda Sukarlan, pakar hukum Dini Shanti Purnomo, ahli manajemen bencana Henny Vidiarina, ahli teknologi drone Irendra Radjawali dan lain-lain.

Pemerintah Indonesia sedang dalam proses membentuk Dewan Riset Nasional dengan dana abadi Rp6 triliun. Ini akan difokuskan pada bidang penelitian dan pengembangan pangan / pertanian, perawatan kesehatan, teknologi informasi / komunikasi, transportasi, pertahanan, energi terbarukan, maritim, manajemen bencana, sosial budaya, humaniora dan pendidikan. Dana tersebut akan tersedia juga untuk akademisi Indonesia yang berbasis di universitas di luar negeri.
Menristekdikti M Nasir menyebutkan, peran diaspora akan diperbesar untuk ikut memperluas jaringan di kalangan peneliti di luar negeri.

"Dalam network, bagaimana meningkatkan riset yang ada di Indonesia masuk kelas dunia yang bisa menghasilkan prototype dan inovasi," jelas Menristekdikti, Mohamad Nasir dalam siaran persnya, Rabu (21/8/2019).

Lebih jauh lagi, Menristekdikti menjamin penghargaan dan kesempatan bagi talenta berbakat Indonesia di luar negeri melalui UU nomor 11 tahun 2019 yang baru disahkan tentang Sistem Nasional (Sinas) Iptek, Sistem Inovasi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi

Dr Sabrina Anjara (saat ini Postdoctoral Research Fellow di University College Dublin) memaparkan studinya mengenai studi pelayanan kesehatan dasar dan toleransi umat beragama yang kini terancam oleh radikalisme.

Ia menawarkan identifikasi potensi radikalisme melalui pemanfaatan teknologi big data dan pendekatan psikometri. Selain itu ia menjelaskan beberapa tantangan yang harus diubah menjadi kesempatan dalam memulangkan kembali talenta-Indonesia dari luar negeri.

Baginya, akan lebih mudah bagi akademisi dan profesional tersebut untuk memutuskan pulang saat sudah mencapai cita-citanya untuk meraih kematangan profesional dan sanggup bersaing di tingkat global, dan kemudian mengabdi bagi bangsa dan negara.

Selain Sabrina ada tujuh ilmuwan diaspora Indonesia dari Universitas Oxford dan Cambridge yang diterbangkan ke tanah air untuk pertemuan tersebut. Dalam pertemuan tertutup tersebut, Presiden menyatakan keinginannya untuk para diaspora Indonesia untuk berkontribusi dalam penelitian, inovasi, dan pendidikan di Indonesia.

Reporter : Sesmawati
Editor : Sulha Handayani