• News

  • Peristiwa

Mie Instan Indonesia Lebih Enak Dibanding di Eropa, DPR Ungkap Dampaknya

Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf .
Netralnews/Ocha
Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf .

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf menyebutkan, salah satu penyebab penyakit adalah karena gaya hidup terkait makanan dan minuman. Bahkan, menurut laporan yang diterima dari Kementerian Perdagangan, pertumbuhan makanan dan minuman lebih tingi dari pertumbuhan perekonomian.

Demikian disampaikan Dede Yisuf dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB 9) dengan tema “Peningkatan Perlindungan Masyarakat serta Daya Saing Obat dan Makanan” di Ruang Serba Guna Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Senin (16/9/2019).   

“Kalau kita bandingkan, ada mie instan, di Eropa rasanya tidak seenak yang di sini. Karena di sana MSG-nya tidak boleh tingi. Itu artinya, kalau di Indonesia masih tinggi. Begitupun dengan minuman, di luar negeri ada minuman teh yang populer di Indonesia tapi tidak semanis yang ada di Indonesia,” tegas Dede.

Selain Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf, hadir sebagai narasumber dalam Diskusi Media FMB 9 kali ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, Staf Ahli Hukum Bidang Kesehatan dr Kuwat, dan Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman.

Menurut Dede Yusuf, bagaimana dengan obat yang beredar yang dengan mudah bisa dibeli, khususnya secara online. Bahkan, ada klasisifikasinya, ada yang KW super ada juga yang KW ori.

Pernyataan ini disampaikan Dede Yusuf karena ada sebuah laporan masyarakat ke DPR, bahwa ada produk obat dengan kandungan babi. Setelah diselidiki, ternyata ada supllier yang iseng, seharusnya membeli dari Spanyol, tapi dicari yang lebih murah, akhirnya diambil dari Tiongkok.

"Bahan baku obatnya ada KW sampai 16. Yang KW itulah yang mengandung babi,” kata Dede.       

Menurutnya, dalam hal ini tugas DPR salah satunya adalah menerima masukan dari masyarakat. Berikutnya, menyatukan persepsi antara kementerian kesehatan, BPOM dan lembaga terkait lainya.

“Karena itu, kami melihat dari sisi mana negara hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membangun benteng ketahanan, sehingga bagaimana masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan kualitas kesehatan,” ujar Dede.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani