• News

  • Peristiwa

Pengembangan Kawasan Transmigrasi Harus Manfaatkan Teknologi Industri 4.0

Pengembangan kawasan transmigrasi harus manfaatkan teknologi industri 4.0.
Kemendes
Pengembangan kawasan transmigrasi harus manfaatkan teknologi industri 4.0.

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengatakan, pengembangan kawasan transmigrasi juga harus memanfaatkan perkembangan teknologi industri 4.0. Eko lantas menepis anggapan ketidakmampuan transmigran bersaing di era tersebut.

Diketahui Eko, ada yang mencibir bagaimana memulai 4.0 di daerah transmigrasi. Padahal teknologi 4.0 adalah bagaimana menggunakan teknologi tersebut agar menjadi lebih produktif dan mudah.

"Mereka (yang mencibir) salah. Orang yang tidak memiliki knowledge (pengetahuan) juga bisa memanfaatkannya untuk produktifitas lebih baik," terang Eko, saat membuka Kongres Nasional Transmigrasi Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, program transmigrasi telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di luar jawa. Meski demikian, tantangan program transmigrasi saat ini lebih besar mengingat kebutuhan transmigran masa lalu dan saat ini jauh berbeda.

Tak hanya rumah, lahan pertanian, dan biaya hidup sementara, menurutnya, transmigran juga butuh model bisnis baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi transmigran.

"Dulu yang penting bisa dipindahkan dari daerah padat ke daerah yang membutuhkan. Transmigran diberikan sandang, pangan, papan sudah cukup. Saat ini tidak hanya cukup hanya itu. Mereka ingin anaknya sekolah sampai perguruan tinggi, hidup layak seperti masyarakat menengah di perkotaan," ujarnya.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Eko, pasalnya Gross Domestic Product (GDP) Indonesia yang semakin meningkat mendorong pemerintah untuk melakukan Reformulasi program transmigrasi. Reformulasi tersebut dilakukan dengan model bisnis kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.

Menurut Eko tidak bisa lagi menggunakan paradigma lama karena zaman telah berbeda. Saat program transmigrasi pertama diluncurkan, GDP per kapita Indonesia di bawah 1US$0. Sekarang GDP per kapita sudah US$4.000.

"Diperkirakan tahun 2045 GDP sudah US$20.000. Kita perlu dorong model-model transmigrasi yang kolaboratif, jadi tidak dari sisi pemerintah saja," ujarnya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani