• News

  • Peristiwa

Ray Rangkuti Ungkap Ciri-Ciri Gerakan Mahasiswa Tidak Ditunggangi

Pengamat Politik dan Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti
Dokumentasi Netralnews/Sesmawati
Pengamat Politik dan Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik Ray Rangkuti menilai gerakan mahasiswa yang menolak RKUHP dan Revisi UU KPK murni sebagai gerakan melanjutkan agenda reformasi.

Ray menyebut ada beberapa hal yang membuat gerakan mahasiswa tersebut jauh dari pengaruh kepentingan politik ataupun ditunggangi 

Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) itu mengatakan, jika satu gerakan mahasiswa terjadi secara meluas, dengan cakupan daerah yang melibatkan hampir seluruh pulau, bahkan propinsi, serta melibatkan jumlah massa puluhan atau bahkan ratusan ribu dan dilakukan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, maka menandakan bahwa gerakan itu bersifat murni dan jauh dari pengaruh ditunggangi.

"Selain itu, gerakan juga tanpa kepemimpinan yang menonjol, di mana hampir semua basis massa tidak berada dalam satu garis komando. Memiliki isu utama yang dituju tapi saat yang sama memiliki beberapa variasi isu yang berbeda. Dengan militansi yang terjaga dan spartan -umumnya ditandai dengan tidak bergeming, sekalipun ditindak dengan cara yang berlebihan," papar Ray Rangkuti lewat keterangan tertulisnya yang diterima Netralnews, Jumat (27/9/2019).

Ray menilai ciri-ciri seperti disebutkan di atas terlihat dalam gerakan mahasiswa yang sekarang. 

"Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa gerakan mahasiswa September 2019 ini adalah murni gerakan mahasiswa untuk menuntut dihentikannya segala upaya yang mengkorupsi agenda reformasi dan demokrasi," jelasnya. 

Lanjut Ray, itulah isu utama dari aksi mahasiswa ini. Yang dalam turunannya adalah menghendaki ditundanya berbagai RUU yang dianggap akan memberangus kebebasan warga negara, makin dalamnya intervensi negara terhadap wilayah privat, makin istimewanya hak-hak koruptor dan menuntut profesionalisme polisi paska institusi ini dijadikan sebagai institusi terpisah dari TNI.

"Oleh karena itu, sebaiknya semua elit menjawab tuntutan mereka. Lebih dari sekedar memastikan menunda rencana pembahasan RUU tersebut, tapi juga memastikan tidak adanya upaya mengistimewakan hak-hak koruptor melalui serangkaian pelemahan KPK dan meringankan tuntutan kepada mereka. Saat yang sama elit juga memberi kepastian tidak akan ada tindakan kekerasan yang akan dialami oleh para aktivis, di mana pun ia berada," terangnya lagi.

Ray juga meminta gerakan dan tuntutan mahasiswa yang sekarang juga tak perlu dilabeli dengan macam stigma. 

"Tidak akan banyak membantu untuk meredam mereka. Alih-alih membantu, yang ada adalah stigma itu seperti mengulang kisah lama yang justru pernah dialami oleh sebagian elit yang ada saat ini. Saat mana mereka ikut serta dalam menggulirkan reformasi 98. Di saat itu, segala macam stigma ditimpakan pada aksi mahasiswa. Buktinya tak ada yang mampu meredam bergulirnya reformasi," urainya.

Maka dari itu, sejatinya gerakan yang ada saat ini jadi momentum untuk sekaligus mengevaluasi sejauh apa agenda-agenda reformasi terwujud dalam sistem berbangsa dan bernegara saat di mana aktivis atau aktor-aktor reformasi 98 banyak menempati posisi elit kekuasaan. Mengapa gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi jangan dikorupsi bisa muncul dengan luas dan massifnya justru saat di mana aktivis  reformasi banyak di dalam posisi berkuasa. Jelas ada sesuatu yang harus dibenahi. 

"Gerakan ini bukan hanya kritik pada legislatif atau eksekutif, tapi sekaligus pada aktivis 98 yang berada di barisan elit politik saat ini. Dengan berjejernya barisan aktivis 98 di elit politik, maka sejatinya gerakan massa dengan tuntutan seperti saat ini tidak akan terjadi," katanya lagi.

Maka jagalah KPK, perberatlah hukuman para koruptor -bahkan memiskinkan mereka-, jagalah HAM, jagalah kebebasan warga, jauhkan negara dari wilayah privat, perbaiki birokrasi, professionalkan polisi agar jadi pengayom dan pelindung masyarakat, muliakan petani dan nelayan -permudah urusan dan fasilitas mereka untuk dapat sejahtera-, dan jaga pluralisme bangsa.

"Tugas kita bukan meredam aksi mahasiswa, tapi menjaga agenda reformasi jangan sampai dibajak untuk kepentingan pribadi atau kelompok," tutup Ray Rangkuti.

Reporter : Sesmawati
Editor : Nazaruli