• News

  • Peristiwa

Miris! Gelandangan dan Pengemis Berdatangan ke Pekanbaru, Apa yang Dilakukan?

Jumlah pengemis dan gelandangan di Pekanbaru terus bertambah
foto: rri.co
Jumlah pengemis dan gelandangan di Pekanbaru terus bertambah

PEKANBARU, NETRALNEWS.COM - Jumlah geladangan dan pengemis binaan Dinas Sosial dan Pemakaman (Dinsoskam) Kota Pekanbaru periode Januari-Juli 2019 bertambah menjadi 48 orang, dari sebelumnya 28 orang.

"Meningkatkan jumlah gepeng hingga 42 persen itu karena Kota Pekanbaru lemah dalam penjaringan dan penertiban sehingga penyandang masalah kesejahteraan sosial sering berdatangan," kata Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial, Korban Tindak Kekerasan dan Perdagangan Orang Dinsoskam Pekanbaru, Riko Eka Putra di Pekanbaru, Kamis (3/10/2019).

Menurut dia, maraknya gepeng berdatangan juga karena Kota Pekanbaru, merupakan kota metroplitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan memicu banyak pendatang ingin mencari nafkah.

Disebutkan Kota Pekanbaru diiibaratkan seperti gula, dimana banyak gula disitu akan berdatangan semut, arti selain warga yang betul betul ingin bekerja juga gepeng tersebut, namun demikian keberadaan PMKS itu tetap dilakukan penjaringan.

"Pada Juli 2019, kita sudah menjaring gepeng di jalanan mencapai 46 orang di antaranya 3 anak-anak, sedangkan 46 gepeng itu sempat berada di penampungan Dinas Sosial Kota Pekanbaru," katanya.

Dominan PMKS yang dibina adalah pengemis namun diantara mereka juga terdapat anak punk yang berusia 18 tahun dan mereka sudah dipulangkan ke daerah anak asal.

Selain itu, Riko mengatakan upaya menekan jumlah gepeng di jalanan memang sulit jika masyarakat masih memberikan sumbangan di jalanan, padahal pemberian sumbangan oleh pengendara sudah menyalahi
Perda No. 12 tahun 2008 tentang Ketertiban Sosial terdapat sanksi denda sebesar Rp50 juta bagi pemberi dan penerima sumbangan.

"Memang dilematis, disatu sisi masyarakat pengen berbagi sedikit rezekinya untuk meringankan perekonomian mereka, namun pemberi sudah melanggar aturan. Harusnya Perda itu jalan agar gepeng tidak ketagihan menerima sumbangan tersebut," katanya dinukil Antara.

Berdasarkan data Dinsoskam, sebanyak 48 gepeng yang terjaring tersebut tercatat perempuan 19 orang, laki 29 dengan usia paling rendah 13 tahun dan tertinggi 76 tahun.

Editor : Taat Ujianto