• News

  • Peristiwa

Gelandangan dan Pengemis Berdatangan ke Pekanbaru, Politisi Ini Sarankan Tiru Surabaya

Razia gepeng di Pekanbaru
foto: antara
Razia gepeng di Pekanbaru

PEKANBARU, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru  Ir.Nofrizal,MM mengajak semua pihak harus terlibat dalam menangani masalah gepeng yang kini makin marak di daerah itu.

"Gelandangan dan pengemis di Kota Pekanbaru ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, tidak hanya Dinas Sosial tetapi juga menjadi tugas dinas terkait lainnya termasuk peran serta Satpol PP, camat, lurah dan masyarakat," ucap Nofrizal kepada pers di Pekanbaru, Jumat (4/10/2019).

Menurut dia, selain dibutuhkan konsep yang jelas, Pemko juga diharapkan membentuk tim terpadu yang terprogram hingga ketingkat kecamatan dan Kelurahan dalam mengatasi beragam permasalahan sosial itu.

Ia menyebutkan, perlu kembali dibentuk Tim terpadu dan dilengkapi dengan pekerja sosial mulai dari tingkat kelurahan yang didanai oleh APBN, dan program ini dulu pernah mendapat bantuan APBN.

"Saya yakin alokasi anggaran yang sama masih ada tahun 2019 jadi ini bisa dimanfaatkan untuk mendata dan mengatasi persoalan gepeng yang jumlahnya terus meningkat itu," katanya dinukil Antara.

Sementara itu, Dinas Sosial dan Pemakaman (Dinsoskam) Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, membutuhkan satu unit balai sebagai sarana pembinaan dan pelatihan keterampilan gelandangan dan pengemis (gepeng) yang terus marak di kota itu.

"Gepeng marak berdatangan ke Pekanbaru, dominan berasal dari luar Kota Pekanbaru, dan luar Provinsi Riau selain transit mereka juga beraksi di tiap perempatan lampu merah untuk mengemis, sehingga daerah ini cenderung tidak pernah sepi dari aksi gepeng itu," kata Kabid Rehabilitasi Sosial, Bustani.

Menurut dia, untuk menekan aksi gepeng yang terus menggangu ketertiban lalulintas itu serta estetika Ibukota Provinsi Riau itu, idealnya Pekanbaru perlu membangun satu unit balai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti di Surabaya yang bisa menampung minimal 500 gepeng itu karena dibangun pada areal seluas lima hektare.

Ia mengatakan, untuk Pekanbaru layaknya balai tersebut bisa dibangun di atas lahan seluas 10 hektare bisa dibangun aula, dapur, areal parkir, dan lahan untuk bercocok tanam apalagi Pekanbaru banyak tersedia lahan kosong memadai untuk dibangun sarana serupa.

Berdasarkan data Dinsoskam, periode Januari-Juli 2019 tercatat sebanyak 48 gepeng yang terjaring tersebut tercatat perempuan 19 orang, laki 29 dengan usia paling rendah 13 tahun dan tertinggi 76 tahun.

Penyandang masalah sosial yang dibina tahun 2019 mengalami peningkatan 28 orang dibandingkan tahun 2018 yang hanya 20 Gepeng.

Editor : Taat Ujianto