• News

  • Bisnis

16 Fakta Saudi Arabian Airlines, Maskapai yang Selamat dari Perang Teluk

Boeing 747-468 Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional Jinnah, Karachi, Pakistan.
Asuspine/Wikimedia Commons
Boeing 747-468 Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional Jinnah, Karachi, Pakistan.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di antara sekian banyak maskapai asal Timur Tengah, kita mungkin hanya akrab dengan Etihad atau Emirates. Mereka yang belum pernah beribadah  umrah atau berangkat haji mungkin belum akrab dengan Saudi Arabian Airlines.

Memang, industri penerbangan di Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir telah berpusat di sekitar maskapai penerbangan asal Teluk, seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.

Namun, sementara Emirates Airline, Etihad Airways, dan Qatar Airways menempatkan negara-negara UEA dan Qatar yang relatif kecil ke peta rute dunia, membangun Dubai International, Abu Dhabi International, dan Hamad International Doha yang menjadi pusat perhubungan utama, ada negara Timur Tengah lain terus mendominasi pasar regional, yakni Arab Saudi.

Arab Saudi merupakan bagian terbesar dari Semenanjung Arab dengan luas wilayah sekitar 2.150.000 kilometer persegi yang menjadikannya sebagai negara terbesar kedua di dunia Arab setelah Aljazair.

Secara ekonomi, Arab Saudi memiliki industri penerbangan terbesar di Timur Tengah yang menyumbang lebih dari sepertiga (35,8%) dari total kapasitas intra-regional pada 2017 lalu.

Saudia yang juga dikenal sebagai Saudi Arabian Airlines adalah maskapai nasional Arab Saudi, yang berbasis di Jeddah. Basis operasional utama maskapai ini di Bandara Internasional King Abdulaziz. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam adalah hub sekunder.

Saudi Arabian Airlines juga merupakan maskapai terbesar ketiga di Timur Tengah dalam hal pendapatan, setelah Emirates dan Qatar Airways. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan terjadwal domestik dan internasional ke lebih dari 85 tujuan di Timur Tengah, Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Penerbangan charter domestik dan internasional juga dilayani oleh Saudi Arabian Airlines, sebagian besar selama bulan Ramadan dan musim haji. Saudia merupakan anggota Arab Air Carriers Organization dan bergabung dengan aliansi maskapai SkyTeam pada 29 Mei 2012.

Fakta-fakta Menarik Seputar Saudi Arabian Airlines
Saudi Arabian Airlines merupakan maskapai nasional (flag carrier) Arab Saudi, seperti halnya Garuda Indonesia yang merupakan maskapai nasional Indonesia. Berikut beberapa fakta tentang salah satu maskapai terbesar di Timur Tengah ini:

1) Awalnya hanya bermodalkan satu pesawat hadiah dari Presiden AS
Saudi Arabian Airlines berdiri pada 1945, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Franklin Delano Roosevelt mempersembahkan pesawat bermesin ganda Douglas DC-3 sebagai hadiah kepada Raja Abdul Aziz Ibn Saud. Peristiwa berdirinya maskapai Saudia ini menandai perkembangan bertahap penerbangan sipil kerajaan.

2) Bandara ‘kampung halaman’ Saudi Arabian Airlines kini tinggal kenangan
Bandara Kandara dahulu menjadi ‘kampung halaman’ Saudi Arabian Airlines yang sekarang sudah dihancurkan. Bandara yang dekat dengan Jeddah ini berfungsi sebagai pangkalan utama Saudi Arabian Airlines di awal berdirinya.

Sekarang Bandara Kandara tidak beroperasi lagi. Kini lokasinya menjadi perumahan warga dan mal di Arab Saudi.

3) Rute internasional pertama ke Mesir
Pengoperasian awal maskapai ini merupakan penerbangan khusus dari Lydda (Lod) di Palestina (saat ini bagian dari Israel, di lokasi Bandara Internasional Ben-Gurion). Penerbangan tersebut merupakan mandat pemerintah Inggris pada waktu itu untuk membawa jemaah haji ke Jeddah.

Saat itu, maskapai ini menggunakan lima pesawat DC-3 untuk meluncurkan operasi terjadwal di rute Jeddah-Riyadh-Hofuf-Dhahran pada Maret 1947, diikuti dengan rute internasional pertamanya antara Jeddah dan Kairo pada bulan yang sama. Kemudian, rute ke Damaskus dan Beirut pada awal 1948.

4) Saudi Arabian Airlines mendapatkan rating 4-Stars dari Skytrax
Segel Persetujuan Kualitas diberikan dari Skytrax (konsultan dan analis industri penerbangan independen yang berbasis di Inggris) kepada maskapai yang mampu menjaga kinerja dan kualitas yang baik secara.

Pemeringkatan tersebut mewakili maskapai penerbangan yang menyediakan standar produk yang baik di berbagai kabin wisata dan memberikan standar layanan staf yang baik untuk lingkungan onboard dan bandara di rumah.

5) Penyumbang besar untuk ekonomi Arab Saudi
Saudia telah memainkan peran penting dalam membentuk ekonomi Arab Saudi. Maskapai ini memelopori program pelatihan, memberikan kesempatan kerja kepada banyak orang di Timur Tengah, dan memfasilitasi transportasi dari dan ke Arab Saudi.

6) Menyediakan pesawat charter mewah selama musim haji dan Ramadan
Selain diakui telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan Arab Saudi, selama musim haji dan Ramadan, Saudi Arabian Airlines juga mengoperasikan penerbangan charter domestik dan internasional dari beberapa tujuan. Saudia memberikan layanan penerbangan charter-nya menggunakan pesawat mewah Dassault Falcon 7x.

7) Membangun kota mandiri khusus untuk tempat tinggal pegawainya
Awalnya, maskapai Saudia ini dioperasikan oleh maskapai Amerika bernama Trans World Airlines. Pada 1970-an, maskapai Saudi Arabian Airlines mengembangkan Saudia City, yang berukuran 1,5 juta meter persegi dan diperuntukkan sebagai tempat tinggal bagi karyawan Saudia.

Pada masa itu, kota ini adalah kompleks perumahan terbesar yang dikembangkan oleh sebuah maskapai penerbangan untuk pegawainya.

8) Memiliki salah satu bangunan kargo terbesar di Timur Tengah
Bangunan Saudi Air Cargo terletak di Bandara King Khaled, Riyadh. Bangunan ini menangani lebih dari 140.000 metrik ton kargo setiap tahun, menjadikannya salah satu bangunan kargo terbesar di Timur Tengah.

9) Loyalty program Saudia memungkinkan pelanggan terbang gratis ke Eropa
Maskapai Saudia memiliki program AI Fusan untuk frequent flyer. Dengan program ini, pelanggan akan mendapatkan tiket pulang-pergi gratis ke Eropa setelah mengumpulkan 40.000 mil (poin) dan tiket pulang-pergi gratis ke wilayah mana pun di Timur Tengah setelah mengumpulkan 25.000 mil. Tentu saja, pelanggan bisa memanfaatkan program ini dengan mengumpulkan mil saat bepergian.

10) Menyediakan ratusan ribu porsi makanan tiap hari
Unit Jeddah dari Saudi Airlines Catering pada satu hari pernah menghasilkan 102.500 makanan. Prestasi ini dicapai pada September 2015, ketika makanan tersebut disajikan pada 299 penerbangan dalam 24 jam.

11) Meluncurkan maskapai berbiaya rendah (LCC) sendiri
Awal 2019, Saudia mengumumkan rencana untuk meluncurkan maskapai berbiaya rendah baru. Operasi Flyadeal dimulai pada 2017, dan low cost carrier (LCC) baru tersebut kini menjadi anak perusahaan Saudi Arabian Airlines. Flyadeal yang menjual harga tiket pesawat murah melayani rute-rute domestik Arab Saudi.

12) Katering pesawat Saudia bersertifikat halal
Saudi Airlines Catering (SACC) beroperasi sesuai dengan standar kualitas internasional tertinggi, dan telah menetapkan metodologi serta program pelatihan staf yang tepat dan akurat untuk menjaga standar kepatuhan dan standar halal mereka.

Dedikasi terhadap kualitas ini menjadikan SACC salah satu perusahaan terkemuka di Arab Saudi untuk mendapatkan sertifikasi internasional seperti HACCP dan OHSAS, serta juga berkontribusi pada tingkat tinggi kepuasan pelanggan dan kepercayaan kepada mereka.

Di kabin Saudi Arabian Airlines, semua sepenuhnya halal. Penumpang tak akan menemukan minuman beralkohol atau daging babi yang disajikan di pesawat, sesuai dengan Syariat Islam.

13) Layanan istimewa untuk penumpang yang terbang ke AS atau Inggris
Pada Maret 2017, Saudi Arabian Airlines menyediakan layanan gratis tambahan untuk para penumpang yang bepergian ke AS dan Inggris. Layanan baru itu termasuk menerima titipan perangkat elektronik (laptop, iPad, dan ponsel pintar berukuran besar) di gerbang keberangkatan, menyimpannya dengan aman, dan mengembalikannya kepada para pemiliknya setelah tiba di tujuan.

Dengan demikian, para tamu dapat menggunakan perangkat pribadi mereka saat menunggu boarding di ruang keberangkatan dan sebelum melanjutkan penerbangan mereka. Selain itu, penumpang dapat menggunakan gadget mereka selama waktu tunggu dalam perjalanan transit.

14) Memberi suvenir untuk Raja Salman
Pada Mei 2017, Saudi Arabian Airlines yang menjadi maskapai resmi dan sponsor tim sepakbola Kerajaan Arab Saudi mempersembahkan suvenir kepada Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman Bin Abdulaziz.

Suvenir itu berupa replika Douglas DC3, jenis pesawat yang dihadiahkan kepada Raja Abdulaziz oleh Presiden AS Franklin D Roosevelt, dan replika Boeing 777-300ER yang sangat canggih yang dicap dengan bendera nasional, "Untuk Kemuliaan dan Supremasi".

15) Maskapai peraih penghargaan untuk layanan pelanggan
Saudi Arabian Airlines (Saudia) telah menerima dua penghargaan di Dubai untuk layanan kabin dan produk in-flight-nya.

Penghargaan utama, Inflight Airline of the Year adalah pengakuan atas produk dan kemajuan baru dalam satu tahun terakhir untuk kualitas hiburan dalam pesawat. Ini termasuk pengenalan suite di penerbangan first class yang baru serta pengalaman IFEC yang diperkaya dengan 3.500 jam konten terkemuka dan portal konektivitas baru dalam penerbangan.

Saudia terus berinvestasi dalam meningkatkan pengalaman perjalanan dan telah membuat perkembangan besar pada produk-produknya selama 12 bulan terakhir.

16) Piyama first class Saudia didesain oleh Porsche
First class di Saudi Arabian Airlines disebutnya sebagai First Suite yang dilengkapi dengan kenyamanan dan kemewahan suite pribadi yang sepenuhnya tertutup. Penumpang dapat menikmati hiburan HD nonstop selama 1.500 jam di layar 23 inch sambil bersantai di kursi panjang yang dirancang untuk memanjakan penumpang.

Ketika penumpang butuh sesuatu, dengan sentuhan tombol, awak kabin Saudia akan siap melayani. Mereka akan menyiapkan tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantal, penumpang mengenakan piyama yang dirancang khusus oleh Porsche Design.

Penumpang akan dimanjakan oleh santapan mewah, a la carte, dengan chef onboard di ketinggian 39.000 kaki selama perjalanan.

Perangkat perawatan diri yang diberikan kepada penumpang juga tidak sembarangan, dirancang khusus oleh Furla untuk wanita dan Porsche Design untuk pria.

Imbas Perang Teluk
Satu tahun setelah berakhirnya Perang Teluk, hanya 75 persen dari layanan udara di wilayah Teluk yang berhasil melanjutkan bisnisnya, setelah berhenti beroperasi selama konflik. Selain itu, lalulintas udara intraregional turun hampir 30 persen dibandingkan pada tahun 1989.

Bagi Saudi Arabian Airlines, dampak finansial Perang Teluk, dalam hal berkurangnya pendapatan dan premi asuransi yang lebih tinggi, memaksa maskapai untuk membekukan rencananya untuk program modernisasi armada yang melibatkan penggantian semua Boeing 737 milik perusahaan, beberapa di antaranya berusia di atas 20 tahun.

The Middle East Economic Digest mengutip, Wakil Presiden Eksekutif untuk Operasional Saudia, Adnan Dabbagh, mengatakan, "Kami memang memiliki rencana mengantisipasi beberapa penggantian armada. Tetapi dengan adanya krisis, semuanya ditunda sampai semuanya kembali normal."

Dabbagh juga mengonfirmasi rencana untuk membuang armada Boeing 737, tetapi tidak dapat diganti sampai pembiayaan tersedia untuk pesawat baru.

Seiring perkembangannya, Saudi Arabian Airlines cenderung mengikuti kebijakan ekspansi bisnis dalam menanggapi meningkatnya permintaan. Maskapai ini telah mendapat banyak manfaat dari pasar domestiknya yang telah berkembang dengan cepat dan mantap. Pendekatan ini telah menghasilkan stabilisasi volume penumpang dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Jane’s Airline Directory, pendekatan bijaksana Saudi Arabian Airlines telah melindungi maskapai dari risiko terburuk dari kemerosotan ekonomi dan lalulintas di Timur Tengah secara umum, setelah terjadi penurunan tajam untuk harga minyak.

Editor : Y.C Kurniantoro