• News

  • Peristiwa

Peneliti: Bayi Pertama Lahir di Ruang Angkasa adalah Warga Negara Rusia

Ilustrasi luar angkasa.
Ilustrasi luar angkasa.

RUSIA, NETRALNEWS.COM - Kepala Laboratorium Biofisika Sel dari Institut Masalah Medis dan Biologi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Dr Irina Ognevamengungkapkan ambisi untuk bayi pertama yang lahir di ruang angkasa adalah orang Rusia.

"Kami selalu menjadi yang pertama di luar angkasa, dan ingin manusia pertama yang lahir di luar angkasa menjadi warga negara Rusia," kata Dr Iriana, dilansir dari laman Daily Mail, Rabu (16/10/2019).

Pernyataan ini disampaikan berkaitan dengan pernyataan Pendiri dan Kepala Eksekutif SpaceBorn United Dr Egbert Edelbroek yang mengatakan, pihaknya sedang merancang misi di mana wanita hamil dapat melahirkan di orbit. Berbicara di Kongres Angkasa dan Sains pertama Asgardia the Space Nation di Darmstadt, Jerman, Dr Edelbroek mengatakan dia berpikir program ini akan terjadi pada 2031.

Ditanya tentang perkiraan 12 tahun, Dr Edelbroek mengatakan akan tergantung pada pendanaan dan pengembangan di sektor pariwisata antariksa. Selain itu dengan diadakannya pesawat ruang angkasa yang sangat nyaman bagi orang-orang. "Selain itu tergantung pada risiko yang bersedia Anda ambil," sambung Dr Edelbroek.

Tetapi Dr Iriana mengakui bahwa sejauh ini kosmonot Rusia telah menolak untuk menyumbangkan sperma yang diperoleh untuk studi ilmiah. Dr Ogneva tidak menjelaskan apakah dia mengharapkan bayi luar angkasa pertama yang dikandung dan dilahirkan di orbit.

"Kita harus merawat orang tersebut dan bukan populisme patriotik sebagai landasan. Dan dalam hal ini kita, tanpa keraguan, kompetitif, karena kita memegang kepemimpinan dalam banyak penelitian," kata dia.

Selama penelitian yang dilakukan oleh NASA pada tahun 1997, tikus hamil diamati selama adaptasi ulang terhadap kekuatan 1-g dan persalinan di luar angkasa.

Walaupun tikus-tikus berhasil melahirkan setelah terpapar dengan gayaberat mikro, sebuah analisis tentang kerja tikus menemukan bahwa mereka mengalami sekitar dua kali jumlah kontraksi persalinan sebagai kontrol di bumi.

"Masih terlalu dini untuk menetapkan tujuan (melahirkan di luar angkasa), tetapi itu bisa ditetapkan sebagai tujuan di masa depan," kata Dr Iriana.

   

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P