• News

  • Peristiwa

Seluruh Wilayah Yogyakarta Siaga Bencana, Ini yang Sedang Diwaspadai

Mitigasi bencana juga harus ditanamkan di sekolah
foto: rri.co
Mitigasi bencana juga harus ditanamkan di sekolah

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Yogyakarta terus melakukan penguatan mitigasi bencana di seluruh sektor, mulai dari sumber daya manusia di instansi tersebut, masyarakat hingga ke sekolah.

“Pembentukan kampung tangguh bencana (KTB) sudah sesuai target, 115 kampung. Ada juga sekolah aman bencana di enam SMP, dan kami pun terus melakukan penguatan personel,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi di Yogyakarta, Jumat (15/11/2019).

Meskipun mitigasi bencana terus dikuatkan, namun Hari berharap, tidak ada bencana yang terjadi di Kota Yogyakarta. “Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, masyarakat sudah siap sehingga memahami langkah apa saja yang harus dilakukan untuk penanggulangan serta penanganan awal,” katanya.

Salah satu bencana yang perlu diwaspadai saat ini, lanjut Hari, adalah perubahan musim dari musim kemarau ke musim hujan karena biasanya terjadi hujan ekstrem disertai angin dan bisa berakibat pada genangan air, luapan sungai, kerusakan talut hingga tanah longsor.

“Seluruh wilayah harus waspada. Bisa saja kami meningkatkan kewaspadaan di bantaran Sungai Code tetapi yang mengalami bencana justru di Sungai Gajah Wong dan Winongo. Oleh karena itu, seluruh wilayah harus waspada,” katanya.

Ia pun kembali mengingatkan agar masyarakat dan kampung tangguh bencana yang ada di wilayah untuk cermat dan jeli melihat perubahan di lingkungan sekitarnya, meskipun perubahan yang terjadi sangat kecil.

“Warga di wilayah tersebut tentu mengenal wilayahnya dengan baik. Jika ada perubahan sekecil apapun, tentu mereka akan menyadari. Langsung lapor ke kami atau instansi terkait lainnya supaya bisa ditangani,” katanya.

Perubahan kondisi lingkungan tersebut, di antaranya adalah pohon yang terlalu rindang atau keropos sehingga berpotensi roboh saat terjadi hujan lebat, tanah atau tebing yang retak sehingga berpotensi longor saat hujan, atau tanah yang retak dan ambles hingga sumbatan sampah.

Sampai saat ini, lanjut Hari, belum ada laporan apapun dari masyarakat atau kampung tangguh bencana terkait perubahan di lingkungan.

"Tidak ada laporan yang masuk. Memang ada catatan beberapa talut rusak tetapi kerusakan sudah terjadi beberapa tahun lalu. Saat ini pun, kami sedang memperbaiki talut permukiman di Juminahan yang rusak pada akhir 2017,” katanyadinukil Antara.

Seluruh kampung tanggung bencana yang sudah terbentuk juga dilengkapi dengan peralatan dasar penanganan bencana yaitu motor roda tiga, gergaji mesin, pompa air, tali ‘rescue’ dan alat komunikasi.

Editor : Taat Ujianto