• News

  • Peristiwa

Terkait Rizieq, Pendiri PAN: Sehari Tak Bikin Gaduh, Malamnya Tak Bisa Tidur

 Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha
Medcom
Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha ikut mengomentari polemik pencekalan Habib Rizieq Syihaboleh pemerintah Arab Saudi.

Lewat akun Twitter-nya, Abdilah mengunggah artikel dari salah satu media daring soal pernyataan pengacara Rizieq yang mengaku telah mengirim foto surat pencekalan Imam Besar FPI itu ke Menko Polhukam Mahfud MD.

Dalam caption-nya, Abdilah menyebut jika ada orang tertentu yang dilahirkan di dunia ini untuk buat gaduh.

"Ada orang-orang tertentu yang dilahirkan di dunia untuk bikin gaduh terus. Kalau sehari tak bikin gaduh, malamnya gak bisa tidur," cuit @AT_AbdillahToha, Jumat (15/11/2019).

Karenanya, Abdillah berharap pemerintah tidak membuang-buang waktu meladeni oknum yang suka bikin gaduh itu.

"Yang begini ini seharusnya pemerintah jangan buang-buang waktu meladeni. Banyak hal lebih penting yang perlu diurus," cuit Abdilah.

Sebelumnya, pengacara Habib Rizieq, Sugito Atmo Pawiro mengklaim telah memberikan sejumlah bukti surat pencekalan terhadap kliennya kepada Menko Polhukam Mahfud MD.

"Sudahlah, tetapi informal saja. Kebetulan kalau (untuk) Pak Mahfud dokumen yang kami rilis itu pun kami kirim. Saya sering komunikasi dengan Pak Mahfud sebab beliau dosen saya," ujar Sugito dilansir dari Kompas.com, Rabu (13/11/2019). 

Sugito mengaku siap jika diminta bersama-sama pemerintah melakukan penelusuran atas asal-usul surat yang dikeluarkan oleh intelijen Arab Saudi itu. 

"Tidak masalah, kami siap sebab ada argumentasi," ujarnya. 

Menurut Sugito, surat pencekalan yang sudah dia kirimkan itu bisa menjadi petunjuk bagi pemerintah. Meski demikian, ia pesimistis pemerintah serius mencari solusi terkait permasalahan kliennya. 

"Saya makanya agak malas sebab pemerintah ini seperti mencari titik lemahnya saja tetapi tidak mencari solusi. Mestinya surat yang ada diproses dulu (ditelusuri), bukan malah ada pernyataan seolah-olah suratnya tidak ada," jelas Sugito.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati