• News

  • Peristiwa

Ternyata, Pendidikan Literasi Kunci Utama Persatuan Bangsa

Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, saat Seminar Nasional
Istimewa
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, saat Seminar Nasional "Perubahan Lingkungan dan Dinamika Komunikasi Kontemporer", di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pendidikan literasi adalah kunci utama terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. Pemberian kegiatan yang bertujuan pengenalan dan pembinaan terhadap anak-anak muda tentang makna Pancasila ini dilakukan melalui mekanisme dan prosedur yang ada. 

Ketika dunia maya dikapitalisasi menjadi kekuatan perusak, maka masyarakat pun menjadi hidup terkelompok. Dalam bidang politik, perpecahan ini dapat disatukan jika elit politik mendapat posisi di pemerintah atau perusahaan plat merah. 

"Memang, para elit politik tak bersuara. Namun bagaimana dengan masyarakat di bawahnya yang sudah terlanjur terpecah?” kata Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, dalam materi yang disampaikan dalam kegiatan Seminar Nasional bertajuk "Perubahan Lingkungan dan Dinamika Komunikasi Kontemporer", yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara di Jakarta, Kamis (19/11). 

Dalam masyarakat yang telah terpecah tadi, peran teknologi informasi semakin jelas. Rekayasa teknologi terbukti mampu menciptakan permusuhan di ruang maya, dimana hal ini terjadi saat dunia maya dikapitalisasi menjadi kekuatan perusak. 

Akibatnya, kehidupan manusia pun menjadi terkelompok. Permusuhan di dunia maya dianggap memiliki hubungan yang kuat sehingga menciptakan situasi yang dulit diprediksi. Menurut pria yang disapa Romo Benny, "inilah perang masa depan dengan kebencian, dimana viral dibesarkan sehingga masuk ke ruang privat dengan sentiment negatif."

Sebagai solusi, Pancasila dinilai mampu menghindarkan terjadinya perpecahan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sebab, Pancasila mampu menjawab berbagai masalah bangsa karena membawa pesan humanis yang universal. Komunikasi sendiri itu harus bisa membangun satu paradigma dalam meningkatnya proses pembatinan Pancasila.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mencari cara efektif untuk membangun kesadaran manusia dalam menjawab tantangan global. Caranya lewat komunikasi yang bertanggung jawab sehingga tidak menimbulkan kericuhan karena semua pihak merasa benar. 

Menurut Ketua Asosiasi Program Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) sekaligus Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Muhamad Sulhan, S.IP., M.Si, yang juga menjadi pembicara di acara ini, layaknya kampanye cinta lingkungan yang jamak disuarakan perusahaan, hal ini baru sebatas pembingkaian (framing) dan pembangunan konstruksi sosial. 

“Kita sedang membangun komunikasi simbolis lewat ambiguitas media sosial,” katanya. 

Karena itu, lanjut dia, penting sekali membangun pemahaman dan pembedaan antara realitas sosiologis dan realitas psikologi pada diri manusia supaya dapat membawa perubahan budaya yang berorientasi digital. 

"Kebenaran itu sendiri bersifat konseptual dan kontekstual. Hati-hati dengan realitas psikologis tetapi kita membangun realitas sosiologis," ujar Sulhan.

 

Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya