• News

  • Peristiwa

Kepala BKKBN Sambut Gembira Wacana Sertifikasi Perkawinan

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo.
NNC/Martina Rosa
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menyambut gembira wacana sertifikasi perkawinan. Pasalnya perkawinan merupakan gerbang menuju keluarga, sebagai wadah penting dalam ciptakan generasi unggul melalui proses reproduksi sehat.

Pernyataan ini disampaikan Hasto menanggapi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Kementerian Agama (Kemenag) yang tengah menggodok rencana program sertifikasi perkawinan.

Program sertifikasi perkawinan tersebut nantinya akan menjadi salah satu syarat pernikahan bagi para pasangan yang akan menikah. Calon pengantin akan diberikan bimbingan perkawinan secara komplit mulai dari mewujudkan keluarga sehat dan bahagia, serta cara mengatasi konflik keluarga.

"Banyak pasangan subur, usia nikah tapi tidak mengerti reproduksi padahal dalam ciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, salah satu yang penting adalah proses reproduksinya. Sebelum reproduksi, saat reproduksi dan lahir bayi dengan hasil yang baik," jelas Hasto.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Perlukah Sertifikasi Perkawinan?", di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jumat (22/11/2019).

Lebih lanjut Hasto menilai, ada 10 materi pokok kursus pra-nikah, diantaranya:
1. Mengapa harus imunisasi pra nikah
2. Pentingnya konsumsi vitamin seperti asam folat, Vitamin D, sejak sebelum hamil
3. Merencanakan kehamilan yang sehat dan menghitung masa subur
4. Bagaimana pengaruh dan cara mengatasi muaI-muntah saat kehamilan awal
5. Mengenali tanda-tanda bayi sehat dalam kandungan
6. Mengenali tanda-tanda berbahaya selama kehamilan
7. Pengaruh stress terhadap kehamilan
8. Pengaruh polutan lingkungan terhadap kehamilan (rokok dan lain-lain)
9. Teknis mencegah/menunda kehamilan
10. Merawat 1000 hari pertama kehidupan (Asih-Asuh-Asah)

Menurutnya, 10 materi pokok tersebut perlu diberikan pada calon pengantin, salah satunya untuk menekan angka pernikahan dini, yakni mereka yang menikah di bawah usia 19 tahun.

Di segi reproduksi, perempuan dibawah 19 tahun memiliki mulut rahim yang belum matang sehingga berpotensi alami kanker mulut rahim nantinya. Selain itu bisa juga diedukasi bagaimana melahirkan anak yang tidak stunting, yakni usia ibu yang cukup, tidak anemia, dan ibu tidak dalam masa pertumbuhan.

"Idealnya lingkar panggul perempuan yang siap melahirkan adalah 10cm karena kepala bayi diameternya sekitar 9,8-9,9cm. Di usia 20 tahun, perempuan sudah memiliki diameter panggul 10cm. Itu memang ilmu bagian hukum Allah dan tugas dokter memahaminya," jelas dia.

Dikatakannya, indikator kesehatan suatu bangsa dilihat dari angka kematian ibu dan bayi yang masih terjadi di Indonesia. Kasus tersebut banyak terjadi karena ibu tidak mengerti persiapan hadapi kehamilan dan persalinan.

"SMP, SMA soal reproduksi juga diklaim tabu, padahal positifnya bisa disiapkan sebelum pernikahan. Saya optimis sertifikasi perkawinan bisa dimanfaatkan beri masukan terkait proses reproduksi," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P