• News

  • Peristiwa

Komisi V Bakal Cecar Kemenhub Soal Kapal Kabel Tiongkok di Perairan Indonesia

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
Setneg
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keberadaan kapal kabel asal Tiongkok yang beroperasi di perairan laut Indonesia dipertanyakan banyak pihak. Anggota Komisi V DPR Irwan juga  berencana menanyakan hal ini ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub). 

Irwan mengaku sangat ingin mengetahui tentang perlengkapan izin dan apa saja bentuk pengawasan yang dilakukan oleh Kemenhub atas kapal yang menggelar kabel untuk sistem komunikasi kabel di bawah laut tersebut.

"Sebagai anggota Komisi V DPR RI saya juga akan pertanyakan terkait izin dan pengawasan operasional kapal kabel berbendera asing ini pada Menteri Perhubungan ( Budi Karya Sumadi) saat rapat kerja nanti, kebetulan senin ini ada rapat dengan Kemenhub," katanya kepada wartawan, Sabtu (23/11/2019).

Diakuinya, kapal asing memang tidak dilarang beroperasi di perairan Indonesia selama mereka mengantongi izin pekerjaan bawah air dari pemerintah Indonesia, dalam hal ini Menteri Perhubungan

Selain memberi izin, pengawasan ketat atas kegiatan tersebut sangatlah penting dilakukan oleh Kemenhub. "Saya pikir ini sangat penting karena menyangkut pendapatan negara dan juga pertahanan," tegas politisi Partai Demokrat itu. 

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menduga ada mafia dan 'backing' politik yang kuat yang kerap 'menekan' Kemenhub untuk melanggar asas cobatage. 

Terlebih, lanjut Arief, ada banyak kapal kabel milik Indonesia yang sebenarnya sudah stanby untuk melakukan pekerjaan tersebut, namun pada kenyataannya, Kemenhub lebih memilih kapal asing.

Terkait itu, Irwan pun berjanji akan mencecar Kemenhub demi mengonfirmasi langsung. Dia ingin tahu tentang izin yang diberikan sudah sesuai prosedur atau tidak.

"Jadi terkait beroperasinya kapal kabel berbendera asing di perairan laut Indonesia perlu segera dilakukan monitoring dan pengawasan terutama terkait ijin dan aktifitasnya apakah sudah sesuai prosedural," jelas Irwan.

Sementara itu, Direktur Lembaga Kajian Hukum Kelautan dan Teritorial Bambang Siswanto menegaskan  beroperasinya kapal kabel di perairan Indonesia jelas-jelas melanggar asas cabotage. "Ini merupakan pemerkosaan konstitusi kita," ujarnya. 

Untuk itu, Bambang pun meminta Menteri Perhubungan untuk tegas dalam hal penerapan asas cabotage. Konkretnya adalah dengan tidak ragu untuk menolak izin berlayar kapal bold maverick milik Tiongkok atau RRC tersebut. 

Tak lupa, Bambang pun mendesak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk tidak pernah mengakomodir security clearance bagi kapal kabel RRC itu.

"Jika dipaksakan kapal bold maverick di ijinkan berlayar di peraturan Indonesia dengan melakukan aktivitas ekonomi. Maka kami akan melaporkan pada Presiden Joko Widodo dan melakukan gugatan PTUN untuk membatalkan penerbitan izin kapal kabel bold maverick milik RRC berbendera Panama,"  pungkasnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Widita Fembrian