• News

  • Peristiwa

Dihina Tetap Memaafkan, Wapres Dinilai Mampu Terapkan Pancasila 

Wakil Presiden Indonesia, Ma'ruf Amin.
Istimewa
Wakil Presiden Indonesia, Ma'ruf Amin.

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COMWakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin dianggap mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila seutuhnya dengan memberikan teladan untuk senantiasa memaafkan pihak yang telah menghina pribadinya.

Ketua Harian Dewan Pengurus Nasional (DPN) Generasi Optimis (GO) Indonesia Frans Meroga Panggabean di Jakarta, Kamis (05/12/2019), menilai sikap Wapres KH Ma’ruf Amin yang memaafkan pihak yang telah menghina pribadinya merupakan sikap nyata pengalaman Pancasila.

“Kami menyesalkan ada pihak yang berani menghina KH Ma’ruf Amin dari sisi ketokohan, baik sebagai Wapres maupun ulama besar yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini,” katanya.

Ia juga menyarankan agar seluruh elemen bangsa tidak kemudian terprovokasi dengan pihak-pihak yang berupaya memecah belah bangsa ini dengan memviralkan penghinaan dan ujaran kebencian.

"Saatnya kita menebarkan kebajikan, mengajarkan akhlakul karimah, bukan menebarkan ujaran kebencian dan penghinaan kepada sesama, apalagi kepada seorang Wakil Presiden yang juga ulama besar," ujar Frans Meroga yang juga penulis "The Ma'ruf Amin Way".

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jendral (Sekjen) DPN GO Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga, menyatakan bangga dengan sosok Wapres KH Ma’ruf Amin yang justru memaafkan dan tidak berniat membawa persoalan penghinaan pribadinya ke ranah hukum.

Pemerhati intelijen dan politik itu menyatakan sikap tersebut layak menjadi suri teladan bagi bangsa ini.

“Kiai Ma'ruf Amin sudah memberikan teladan sangat baik bagi bangsa Indonesia dalam memahami dan mengamalkan Pancasila, generasi muda perlu banyak belajar menahan luapan emosi. Kiai Maruf adalah contoh insan Pancasila seutuhnya," ujar Horas.

Walau demikian, Horas pun tak menyalahkan bila ada anggota masyarakat yang membawa pihak yang diduga menghina pribadi KH Ma’ruf Amin ke jalur hukum karena anggapan sudah terpenuhinya dugaan pelanggaran hukum, yaitu pernyataan kotor dalam ceramah dengan alat bukti video.

"Dalam hal tersebut kami mengimbau ke depan agar tidak ada lagi hal seperti itu dan kami berharap pelakunya meminta maaf secara terbuka,” katanya dilansir dari Antara.

 

Editor : Widita Fembrian