• News

  • Peristiwa

Jembatan Putus, Pesantren Rusak, 50 Santri Jadi Korban, Kerusakan di Jasinga Terberat

Banjir di Jasinga putuskan jembatan
foto: istimewa
Banjir di Jasinga putuskan jembatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bencana di musim hujan di penghujung akhir tahun 2019 dan awal Tahun Baru 2020 melanda kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).

Banjir dan longsor menerjang Ibu Kota Jakarta dan daerah penyangganya di Bodetabek. Dampak dari bencana ini adalah terjadinya korban manusia --baik meninggal maupun luka-luka-- dan kerugian material, baik rumah dan bangunan tertimbun longsor, diterjang air bah banjir, dan tidak berfungsinya sekolah, rumah ibadah dan sarana publik lainnya yang rusak.

Pada Ahad (5/1) pukul 18.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat, bertambah menjadi 60 orang dan dua orang masih hilang pada Sabtu (4/1).

Jumlah tersebut, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo, bertambah dari sebelumnya 53 korban meninggal dunia dalam bencana banjir dan tanah longsor.

Dalam setiap musibah bencana, selalu munculnya solidaritas sosial antar manusia, yakni tumbuhnya individu, komunitas, lembaga, LSM, partai politik, dan bentuk-bentuk organisasi lainnya yang peduli untuk membantu sesama.

Kondisi itu terlihat sepanjang Ahad (5/1) di tiga Kecamatan di Kabupaten Bogor, yang terdampak paling parah dari bencana dan longsor yang menerjang sejumlah desa pada 1 Januari 2020 lalu.

"Kami coba menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, pakaian, dan lainnya dari sumbangan warga dan juga dari Dewan Kemakmuran Masjid Al-Khoslan," kata Vius Giantara, Sekretaris DKM Masjid Al-Khoslan yang juga koordinator penyaluran bantuan bagi korban bencana di Kabupaten Bogor.

Membawa amanah bantuan bagi korban banjir dari ratusan warga di Perumahan Laladon Baru Residence (LBR), Desa Laladon, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Vius menyalurkan bantuan bersama sembilan sukarelawan.

Sukarelawan itu adalah dosen Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB Dr Akhmad Arifin Hadi, Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah, Eureka Indra Zatnika, Aditya Mahendra, dan Indra Saputratim. Mereka berjibaku masuk ke wilayah yang terdampak paling parah dari bencana itu.

Tim menembus lokasi bencana di Kampung Ciasahan, Desa Sukamaju, Kecamatan Jasinga, yang terisolasi akibat banjir bandang melanda kampung itu pada Rabu (1/1). Jembatan utama di kawasan itu diterjang luapan Sungai Cidurian.

"Akibat banjir bandang ini, rumah salah satu ketua RT hanyut," kata Dodi Junaidi, koordinator penerima bantuan di Posko Koramil 0821 di bawah Komando Distrik Militer 0621/Kabupaten Bogor di Kampung Ciasahan, Kecamatan Jasinga seperti dilansir Antara.

Di Kampung itu, sebuah pondok pesantren juga rusak berat. Sebanyak 50 orang santri menjadi korban dan mengungsi.

Korban lainnya, berdasarkan data penyintas di posko itu adalah 136 lansia, 28 anak di bawah usia tiga tahun (batita), 68 bayi di bawah lima tahun (balita), dan 18 ibu hamil.

Akibat jembatan putus di Kampung Ciasahan itu, selain Kampung Ciasahan, dua kampung lainnya yakni Kampung Cikaret dan Kampung Cigowong, Kecamatan Cigudeg, juga terisolasi.

Kepala Desa Sukamaju Dahyudin menjelaskan sejak diterjang banjir longsor, ribuan warga yang berada di Kampung Ciasahan, Kampung Cikaret, dan Kampung Cigowong hanya mengandalkan logistik yang mereka punya hingga akhirnya mulai ada bantuan dari luar.

Medan berat

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Yani Hassan menyatakan jika berdasarkan dampak kerusakan maka yang paling berat yaitu bencana banjir di Kecamatan Jasinga akibat luapan Sungai Cidurian.

Seorang anak 15 tahun bernama Hilman hanyut terseret banjir dari luapan air Sungai Cidurian yang menyapu sekitar rumahnya di Kampung Parung Sapi, Desa Kalong Sawah Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, pada Rabu (1/1) pagi.

Sedangkan bila dilihat berdasarkan lokasi terdampak bencana, lokasi paling luas yaitu di banjir di Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri.

Wilayah terdampak lain yang juga parah akibat banjir dan longsor adalah di Kecamatan Sukajaya.

BPBD Kabupaten Bogor membutuhkan waktu dua hari untuk melakukan evakuasi akses-akses yang terputus di Kecamatan Sukajaya akibat diterjang banjir dan longsor.

"Target dua hari buka akses. Kunjungan kita adalah memastikan untuk perbaikan atau kelancaran transportasi," kata Yani Hassan saat meninjau lokasi terdampak bencana di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor, Sabtu (4/1).

Hampir sebagian besar kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bogor yang dilanda banjir dan longsor, saat ini kondisi medan sangat berat untuk ditembus, termasuk kendala cuaca ekstrem.

Presiden Joko Widodo sendiri, yang pada Ahad (1/5) hendak datang ke Sukajaya untuk menyalurkan bantuan 6.000 paket sembilan bahan pokok (sembako) untuk para korban bencana, gagal karena helikopter yang ditumpanginya batal mendarat karena cuaca ekstrem.

Sejatinya, Presiden yang bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala BNPB Doni Monardo akan ke Sukajaya --akibat kendala cuaca-- akhirnya bantuan itu diwakilkan kepada Kepala Sekretariat Kepresidenan Heru Budi Hartono dan Bupati Bogor Ade Yasin.

Barulah pada Selasa (7/1) Presiden Joko Widodo bisa menemui sejumlah warga terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Sukajaya sekaligus memberi bantuan pangan.

Presiden disertai Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Kesehatan Terawan Agus, Menteri Sosial Juliari Batubara, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono berangkat dari Istana Kepresidenan Bogor menuju Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor pada Selasa sekitar pukul 07:30 WIB.

Setelah menempuh perjalanan darat selama dua jam, Presiden tiba di Desa Harkat Jaya.

Sebanyak enam desa di Kecamatan Sukajaya yang didata terisolasi yakni Kiarapandak, Kiara Sari, Urug, Cileuksa, Pasir Madang dan Cisarua.

Rombongan kepresidenan tidak dapat berkunjung ke sejumlah desa tersebut karena akses yang masih sulit dilalui.

"Sesampai di Desa Harkat Jaya, Presiden Jokowi bersama rombongan kesulitan melalui akses menuju desa-desa tersebut, sehingga Presiden mengunjungi para korban yang sedang mengungsi di posko yang terletak di Kampung Cibuluh, Desa Harkat Jaya," demikian laporan ANTARA TV.

Melintasi Sungai

Upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada korban banjir bandang dan longsor juga mengandung risiko bagi keselamatan diri.

Salah satunya, adalah saat mengantarkan bantuan kepada korban di Kampung Cigowong, kawasan paling parah di Kecamatan Cigudeg.

Apa sebabnya? Karena, saat menuju ke Cigowong, semua bantuan harus dipikul dengan melintasi Sungai Cidurian melalui jembatan darurat bambu, yang di bawahnya adalah arus deras.

Jika tidak hati-hati dan terpeleset, maka arus deras Sungai Cidurian tersebut akan langsung menghanyutkan apa saja yang jatuh di bawahnya.

Anggota tim sukarelawan bantuan kemanusiaan dari LBR yang juga Manajer Advokasi dan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah dengan diantar koordinator penerima bantuan Kampung Cigowong, Abdul Fatah, setelah melintasi sungai, kemudian melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor untuk bisa sampai ke lokasi.

"Memang di Kampung Cigowong kondisinya rusak parah dan sangat memprihatinkan, sehingga warga di sana sangat membutuhkan bantuan," katanya.

Solidaritas kemanusiaan pada setiap bencana masih kuat di kalangan masyarakat di Nusantara ini.

Kini, saatnya berlomba-lomba meringankan beban berat sesama yang sedang mengalami musibah, baik disalurkan sendiri, kelompok, komunitas, perkumpulan dan bahkan melalui lembaga sosial kemanusiaan.

Kesemuanya itu adalah wujud dari ejawantah saling membantu dalam kegotongroyongan yang menjadi ciri utama masyarakat dan bangsa Indonesia.

Editor : Taat Ujianto