• News

  • Peristiwa

PBNU: Warga Indonesia Harus Berlomba-lomba Beri Izin Pembangunan Rumah Ibadah

Masjid dan gereja berdampingan.
euractiv.de
Masjid dan gereja berdampingan.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wasekjend Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) M Imdadun Rahmat mengatakan, warga Indonesia harus berlomba-lomba memberikan izin pembangunan rumah ibadah dan terus menjaga kedamaian. Hal ini menjadi bukti kesetiaan warga negara dalam merawat kemajemukan Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan, karena menurut mantan Komisioner Komnas HAM ini, persoalan pendirian rumah ibadah menjadi zona merah yang paling banyak diadukan.

Di Aceh Singkil misalnya, terdapat 24 izin gereja yang terus ditarik ulur, di Jawa Barat sebanyak 17 gereja yang tidak diberikan izin, dan banyak di tempat lainnya. Hal yang juga sangat memprihatinkan adalah kondisi gereja HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin yang hingga saat ini belum tuntas penyelesaiannya.

“Pemerintah seharusnya tidak menggunakan dalil Putusan Bersama Menteri (PBM) untuk mempersulit pembangunan rumah ibadah. Spirit PBM dari pasal ke pasal adalah spirit memfasilitasi, bukan untuk melarang,” kata dia.

Pernyataan ini disampaikan dia dalam study meeting Rakernas Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) di Hotel Garden Palace Surabaya pada hari Jumat (31/1/2020).

Imdadun menyayangkan aksi-aksi intoleran yang terjadi belakangan ini, yang terkesan menjadi aksi balas-balasan di antara kelompok masyarakat. Menurutnya, seharusnya kita saling berbalasan melakukan perbuatan baik, mengizinkan pembangunan rumah ibadah dari pemeluk agama lainnya.

"Umat Muslim mengizinkan pembangunan rumah ibadah agama lainnya di daerahnya, begitu juga sebaliknya, umat Kristen, Hindu, dan lainnya mengizinkan pembangunan rumah ibadah umat Islam di daerah mereka. Dengan ini kita dapat melanjutkan apa yang dilakukan para pendiri bangsa kita," kata dia.

Lebih lanjut dia sampaikan bahwa Pancasila adalah kepribadian dan identitas bangsa yang tidak boleh dilupakan, apalagi dihilangkan. Pancasila mempersatukan semua suku, golongan, dan ras.

Menurut dia, pemaknaan rekonstruksi sejarah Pancasila adalah spirit dan konteks dalam peristiwa sejarah lahirnya Pancasila. Pancasila bukan nilai semata, Pancasila merupakan titik tengah yang menyatukan dan memberikan jaminan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Menurutnya, para pendiri bangsa berhasil melakukan dialektika dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang mampu diterima oleh setiap kelompok. Penerimaan akan Pancasila merupakan perjalanan dan perenungan spiritual.

“Nahdlatul Ulama sangat menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan non diskriminatif. Membela negara adalah kewajiban personal dan juga kewajiban komunal,” tegas dia.

   

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P