• News

  • Peristiwa

Fahira Idris: Tayangan Kekerasan adalah "Racun" Bagi Anak-anak Kita

Fahira Idris, Anggota DPD.
Fahira Idris, Anggota DPD.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Fahira Idris mengatakan, tayangan kekerasan adalah ‘racun’ bagi anak-anak. Oleh karena itu tidak boleh ada kompromi, sehingga orang tua harus luangkan waktu mengontrol tontonan anak-anak.

Pernyataan ini disampaikan Fahira yang turut angkat bicara terkait kasus remaja yang melakukan tindakan pembunuhan pada anak usia 5 tahun.

"Anak-anak yang sudah terpapar dengan tayangan kekerasan sangat berpotensi menggerus atau menurunkan sensitivitas anak tersebut terhadap kekerasan di kehidupan sehari-hari sehingga anak berpikir bahwa kekerasan itu adalah hal yang biasa," kata Fahira dikutip dari cuitannya, Selasa (10/3/2020).

Menurutnya, keadaan yang sangat berbahaya adalah ketika anak-anak kemudian meniru dan mempraktikkan adegan kekerasan yang dilihatnya.

Kata Fahira, potensi ini besar terjadi, karena anak-anak umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat. Tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan yang mereka tonton.

"Yang menjadi persoalan besar adalah masih banyak orang tua belum sepenuhnya menyadari bahwa di dunia yang serba terkoneksi saat ini anak-anak sangat mudah terpapar tayangan kekerasan baik dari televisi, internet, film/ games sehingga lalai mengawasi apa yang ditonton anak setiap hari," jelas dia.

Menurutnya, anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan akibat terpapar konten kekerasan juga merupakan korban dari lemahnya sistem pengawasan atas tayangan atau konten kekerasan di berbagai platform media. Selain itu ada pula faktor kurangnya pengawasan orang tua terhadap tontonan anak-anaknya.

"Tidak boleh kompromi, jangan sampai anak-anak kita terpapar sedikitpun konten kekerasan karena dampaknya sangat berbahaya bagi tumbuh kembangnya," tegas dia.

Menurutnya, di dunia yang serba terkoneksi saat ini sebagai orang tua sedikitpun tidak boleh lalai mengawasi tontonan anak-anak.

"Verbagai penelitian sudah membuktikan bahwa konten kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif pada anak-anak. Perilaku ini lantas bisa sangat berbahaya jika konten kekerasan tersebut melibatkan senjata atau adegan pembunuhan," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P