• News

  • Peristiwa

Rizal Ramli Sebut Indonesia Butuh Ganti Presiden, Netizen: RR Itu Singkatan Raja Ribut

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli
foto: suara.com
Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menganggap rencana Pemerintah Pusat memindahkan Ibu Kota dari Jakarta ke luar Pulau Jawa tidak perlu dilakukan. Rizal menilai sebagian rakyat Indonesia lebih butuh ganti presiden.

Pendapat Rizal Ramli mendapat tanggapan dari netizen bernama Eddie Riyadi. Melalui akun Facebuknya, Minggu (22/3/2020), ia menyentil Rizal Ramli dengan menyebutnya sebagai "raja ribut".

Di Inggris RR adalah singkatan dari Rolls Royce, tapi di Indonesia itu singkatannya Raja Ribut

pernyataan Eddie mendapat komentar dari warganet:

@Arrent Gulo: Arrent Gulo Rempeyek remuk...T......iiii

@Fransisca Widiharti: Mbahmu druuun

Seperti diberitakan sebelumnya, Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menganggap rencana Pemerintah Pusat memindahkan Ibu Kota dari Jakarta ke luar Pulau Jawa tidak perlu dilakukan. Rizal menilai sebagian rakyat Indonesia lebih butuh ganti presiden.

Hal itu disampaikan Rizal seusai mendampingi Capres nomor ururt 02 Prabowo Subianto berorasi di hadapan ribuan buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pada peringatan Hari Buruh Internasional.

"Rakyat hari ini tidak perlu ibu kota baru, tapi butuh presiden baru," kata Rizal di Tennis Indoor Senayan, Rabu (1/5/2019).

Senada dengan Ekonom Rizal Ramli, Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan rencana pemindahan Ibu Kota ke luar Pulau Jawa akan menghabiskan banyak uang negara. Ia menyebut dana tersebut lebih baik digunakan untuk kesejahteraan buruh.

"Pemindahan Ibu Kota bagi kami kaum buruh tidak terlalu urgent, tidak terlalu dibutuhkan. Untuk apa? Saya dengar infonya dananya Rp 400 triliun. Lebih baik untuk kesejahteraan," kata Said Iqbal.

Menurutnya, anggaran Rp 400 triliun tersebut lebih baik digunakan untuk menurunkan harga kebutuhan pokok mulai dari sembako hingga tarif dasar listrik.

Editor : Taat Ujianto