• News

  • Peristiwa

Sebut Tegal Lockdown, Presiden Tak Dipercaya, Denny: Buat Gagah-gagahan Doang

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menegaskan lockdown di Kota Tegal bukan tindakan karantina seperti yang dilakukan berbagai negara menghadapi Covid-19 atau Corona. Ganjar lebih ke mengistilahkan dengan "Isolasi Kampung".

Sayangnya, ada sejumlah warganet yang menyebut-nyebut Tegal sudah melakukan lockdown sebagai bukti bahwa Presiden Jokowi tidak dipercaya. Tergelitik masalah ini, pegiat media sosial Denny Siregar menulis panjang di dinding Facebooknya, Sabtu, (28/3/2020) dengan judul "TEGAL LOCKDOWN? LOCKDRUN AJA.."

Denny mengaku ada yang memberi tahu kota Tegal lakukan lockdown, katanya: "Den, Tegal lockdown tuh. Presiden lu gak dipercaya lagi sama kepala daerah.."

"Ah, yang benar saja. Lockdown sebuah kota itu dampaknya besar, dan kepala daerah tidak akan sanggup menangani dampak sebesar itu. Makanya keputusannya harus ada di Presiden," tulis Denny.

Dan ketika ia baca lagi, apa sih yang dimaksud lockdown di Tegal, "Ealaahhh..., ternyata cuman penutupan akses sementara kendaraan dari luar kota. Itu bukan lockdown namanya. Mau ketawa, entar dosanya nambah," katanya.

"Istilah Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo lebih sadis lagi, 'Itu bukan lockdown, tapi isolasi kampung !' Ambyarrrr.. Tapi emang gagah sih istilah 'lockdown' itu. Biar dikutip media. Apalagi Walikota Tegal menambahkan narasi dramatis, 'Tidak apa-apa saya dibenci..' Telenovela sekali, Ferguso," imbuh Denny.

"Teriakan lockdown di Indonesia itu sifatnya gagah-gagahan doang. Biar keren dan kekinian. Apalagi di grup WA, biasanya postingannya gak dibaca teman grup, pas teriak lockdown, langsung jadi pembicaraan. Di tingkat kepala daerah juga ada kegenitan politik. Biar gagah dan diliput media, maka harus teriak lockdown. Meski dia tahu, kepala daerah tidak punya wewenang untuk itu. Eh, si teman yang mention baca gak ya kira-kira?" ujar Denny.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menegaskan lockdown di Kota Tegal bukan tindakan karantina seperti yang dilakukan berbagai negara menghadapi Covid-19 atau Corona. Ganjar lebih ke mengistilahkan dengan "Isolasi Kampung".

Ia mengatakan sudah melakukan klarifikasi ke Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono. Ganjar sebenarnya mengapresiasi respon cepat Pemda setempat karena ada pasien positif Corona. "Sudah ada penjelasan, niat baik. Di sana ada yang positif, dirawat," kata Ganjar, Jumat (27/3/2020).

Pemkot Tegal sebenarnya ingin menegaskan agar warga patuh untuk tetap di rumah saja dan mengurangi aktivitas. Ganjar juga mengaku Wali Kota Tegal sempat berkoordinasi menutup tempat hiburan, namun ternyata masih banyak warga yang keluar.

"Pak Wali Kota merespons dengan baik, intinya masyarakat bantu pemerintah agar masyarakat tidak jalan-jalan keluar maka pada saat ada kejadian itu dilakukan 'lockdown local'," papar Ganjar.

"'Lockdown localnya' alun-alun karena banyak orang di alun-alun, kemudian dinaikkan lagi, kok masyarakat masih banyak. Beberapa waktu lalu pak wali (wali kota) telepon, 'Pak Gub, saya mau nutup tempat hiburan' maka saya izinkan. Kok masih jalan lagi maka beliau batasi jalur masuk kota dan kampung dengan barier, mungkin judulnya ya isolasi kampung," lanjutnya.

Penegasan local lockdown tidak sama dengan lockdown di berbagai negara juga ditegaskan dengan masih bolehnya aktivitas terbatas di Kota Tegal. Jika benar Lockdown maka sama sekali tidak ada yang boleh keluar rumah.

"(Kota Tegal) Itu tidak lockdown, kalau iya maka masyarakat tidak boleh keluar rumah. Lha ini masih boleh kok," imbuhnya.

Namun Ganjar setuju jika benar ada isolasi kampung yang minimal diatur tingkat RT termasuk bagaimana cara belanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Minimal mereka melakukan isolasi pada level terkecil yakni RT. Cara belanjanya silahkan diatur, masyarakat hanya boleh bergerak di level RT saja. Kalau itu bisa, saya justru akan mendukung penuh," katanya.

Editor : Taat Ujianto