• News

  • Peristiwa

APD Kurang, Media Sebut IDI Ancam Mogok, Denny: Mau Benturkan dengan Pemerintah?

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tenaga medis yang berada di garis depan penanganan wabah virus corona atau Covid-19 berada dalam bahaya. Semakin banyak yang ikut terpapar virus mematikan asal China tersebut dan jumlah dokter atau perawat yang meninggal juga terus bertambah.

Untuk itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sejumlah organisasi profesi bidang kesehatan lainnya mengeluarkan surat pernyataan bersama, meminta jaminan ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memadai kepada pemerintah.

Pernyataan ini ternyata dalam berbagai media massa disebutkan IDI mengancam "Mogok".

Menurut pegiat media sosial, Denny Siregar, istilah "mogok" yang digunakan media massa menggiring opini ke arah yang tidak benar. Pernyataanya dipaparkan di akun Facebooknya, Sabtu (28/3/2020), berjudul "MAU BENTURKAN DOKTER DENGAN PEMERINTAH??"

"Ikatan Dokter Indonesia ancam mogok tangani pasien Corona, begitu headline di media online tempo.co. Saya coba telusuri di media-media online besar lainnya seperti tirto, kumparan, Republika dan banyak lagi. Bahasa judul mereka sama, yaitu MOGOK," tutur Denny.

"Benarkah IDI mau mogok tangani pasien Corona? Judulnya seksi memang, karena ada kata 'mogok' maka orang jadi pengen baca," lanjutnya.

Masih menurut Denny, "Padahal, kalau membaca penjelasan dari Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih, dia mengatakan,'Paramedis yang pakai APD boleh merawat pasien, yang tidak pakai tidak boleh..'

Menurut Denny pernyataan IDI sudah benar, bahwa sangat berbahaya jika dokter tidak pakai alat pelindung memelihara pasien Corona. Apalagi dengan banyaknya dokter yang akhirnya tertular dan meninggal. Tapi bukan berarti paramedis itu melakukan aksi mogok.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih telah mengonfirmasi kebenaran surat itu, Jumat (27/3/2020).

"Yang pakai APD memadai boleh merawat pasien Covid-19, yang tidak pakai APD memadai tidak boleh," katanya.

Dalam surat pernyataan itu, IDI membeberkan alasan kenapa akhirnya mereka mengeluarkan himbauan tersebut. Yang pertama tenaga medis di Indonesia saat ini berpotensi setiap saat menangani orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Karena itu, semakin banyak tenaga medis di Indonesia dan dunia yang terjangkit virus corona, bahkan sampai meninggal dunia. Tak salah jika kemudian keluar pernyataan bersama meminta perlengkapan dan APD memadai karena tenaga medis merupakan garda terdepan dalam menghadapi wabah corona yang sangat rentan tertular.

"Kami meminta terjaminnya APD yang sesuai untuk setiap tenaga kesehatan. Bila tak terpenuhi kami minta kepada anggota profesi kami untuk tidak ikut merawat pasien corona demi melindungi rekan sejawat," tulisnya.

Dia berharap imbauan ini dilaksanakan demi kebaikan bersama termasuk bagi semua masyarakat Indonesia. Hal itu untuk mencegah semakin berkurangnya tenaga medis yang justru sangat dibutuhkan untuk menangani corona.

"Karena sejawat yang tertular, selain akan jatuh sakit akan berdampak pada terhentinya pelayanan penanganan serta menularkan kepada pasien," tulisnya.

Pernyataan bersama itu melibatkan IDI, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia, dan Ikatan Apoteker Indonesia. Surat itu ditandatangani oleh Daeng M Faqih.

Editor : Taat Ujianto